3 nice stories

15 01 2011

Selagi rada ngantuk, selagi rapat ringing “wall” sms  berbunyi, aha!!  its very nice, seorang sahabat jelasnya my lil sista kasih message yang inspiring banget, well okay, karena belajar multiple focus sambil “listening” rapat sambil ng-post lah ya..

Okay, cekidot hope this is will be inspire you too..

  • Suatu kali semua penduduk desa berdoa memohon hujan. Pada hari semua orang berkumpul untuk berdoa hanya satu bocah laki-laki yang membawa payung, itulah “IMAN”
  • Teladan dari seorang bayi berusia satu tahun, Ketika anda melemparkannya ke udara, dia tertawa karena dia tahu anda akan menangkapnya kembali itulah “KEPERCAYAAN”
  • Setiap malam saat kita tidur, kita tidak tahu bahwa apakah masih hidup saat bangun esok hari, tetapi kita masih mempunyai rencana untuk hari esok, itulah “HARAPAN”

Well, kalian pasti setuju kan, its really nice stories, keep it dears!! :)

source: my inbox phone





Hofmann: Menjadi “Muslim” Sebelum Resmi Islam

19 05 2009

Dr. HofmanDr. Murad Wilfried Hofmann, lahir sebagai Katholik di Jerman pada 1931. Ia lulus dari Union College di New York, dan melengkapi pendidikan hukumnya di Munich University, di mana ia mendapat gelar doktor di hukum yurisprudensi pada 1957.

Kemudian ia menjadi asisten peneliti untuk pembentukan ulang prosedur sipil federal, dan pada 1960 menerima gelar LL.M. dari Fakultas Hukum Harvard. Ia dulu adalah Direktur Informasi NATO di Brussels dari 1983 hingga 1987. Ia sempat diposkan menjadi duta besar Jerman untuk Aljazair di 1987, dan kemudian di Maroko, 1990, di mana ia bertugas selama empat tahun.

Beberapa pengalaman kunci akhirnya membawa Hofmann menuju Islam. Pertama dari seluruh rangkaian itu terjadi pada 1961, ketika ia ditugaskan di Aljazair sebagai atase kedutaan Jerman. Ia menemukan dirinya berada di tengah-tengah situasi perang gerilya berdarah antara pasukan Perancis dan Front Nasional Aljazair yang telah bertempur untuk kemerdekaan Aljazair selama delapan tahun lebih.

Di sana ia menyaksikan kejahatan dan pembantaian yang diterima populasi rakyat Aljazair. Setiap hari hampir selusin orang dibunuh–jarak dekat dengan eksekusi–hanya karena menjadi orang Arab yang menyerukan kemerdekaan.

“Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair untuk bangkit di wajah-wajah luar biasa penuh penderitaan itu. Kedisiplinan mereka selama Ramadan, kepercayaan diri terhadap kemenangan, begitu juga kemanusiaan di kala penuh penderitaan,” tutur Hofmann.

Ia merasa itu adalah agama mereka yang menjadikan mereka seperti itu, dan karena itu Hoffman pun mulai tertarik mempelajari kitab suci mereka, Al Qur’an. “Saya tidak pernah berhenti membaca sejak saat itu,” akunya.

Saya juga berpikir tentang kualitas introspektif istana-istana Muslim, antisipasi mereka terhadap taman surga yang penuh naungan, air mancur,” ujar Hofmann.

“Juga struktur fungsional masyarakat di pusat urban Islami (Madinah) yang menguatkan spirit komunitas dan transparasi pasar, panas dan angin yang menderu, dan banyak lagi,” katanya.

“Apa yang saya alami sangat penuh kebahagian Islami di banyak tempat, sebuah efek nyata harmoni dalam Islam, cara hidup islami, dan bagaimana Islam menyikapi ruang antara hati dan pikiran,” tutur Hofmann.

Mungkin lebih dari itu, yang membuat perubahan nyata dalam pencarian terhadap kebenaran justru karena pengetahuan menyeluruh tentang doktrin dan sejarah Kristen. Ia menyadari jika ada perbedaan signifikan antara keyakinan Kristen dan apa yang diajarkan profesor sejarah di universitas.

Ia, terutama bermasalah dengan adopsi Gereja atas doktrin yang didirikan oleh St. Paul dalam kecenderungan sejarah Yesus.

“Ia yang tidak pernah bertemu Yesus, dengan Kristologi ekstremnya menggantikan pandangan Judeo-Krsitiani Yesus yang asli dan benar,” ujarnya menilai.

Ia pun sulit menerima jika orang dibebani “dosa asal” dan Tuhan harus membiarkan putranya disiksa dan dibunuh dengan salib untuk menyelamatkan seluruh manusia ciptaannya.

“Saya mulai menyadari betapa monsternya, bahkan sangat bersifat menghina agama untuk membayangkan Tuhan dapat menyerupai ciptaanya, bahwa ia tak mampu melakukan sesuatu atas kekacauan yang dibuat oleh Adam dan Hawa tanpa menurunkan anak hanya untuk dikorbankan dalam cara penuh darah, bahwa Tuhan menderita atas manusia, ciptaannya sendiri.

Hofmann pun kembali ke pertanyaan sangat mendasar keberadaan Tuhan. Setelah menganalisa hasil karya para filosof, seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, muncul pengakuan intelektual atas keberadaan Tuhan.

Pertanyaan logis selanjutnya yang ia hadapi adalah bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia sehingga mereka dapat diberi petunjuk.

Hal itu membawanya kepada pengakuan kebutuhan untuk menyerahkan diri. Namun mana yang mengandung kebenaran,Judeo-Kristen, atau Islam.

Ia menemukan jawaban atas pertanyaan itu dalam tiga pengalaman krusial ketika ia membaca beberapa ayat Al Qur’an “..tidak ada pemikul dosa yang harus membawa dosa orang lain,” (Al Qur’an 53:38).

Ayat itu langsung membuka matanya dan memberikan jawaban telak atas dilemanya. Begitu jelas dan bagi Hofmann tidak mengandung ambiguisitas. Ayat itu bertentangan dengan ide membawa ‘dosa asal’ dan harapan ada campur tangan dari orang suci.

“Seorang muslim hidup di dunia tanpa perantara, tanpa hirarki keagamaan. Ketika ia berdoa ia tidak berdoa lewat Yesus, Maria, atau orang suci perantara lain, namun langsung kepada Tuhan, sebagai orang yang percaya sepenuhnya, dan ini adalah agama yang lepas dari misteri,” demikian tulis Hofmann, dalam artikel berjudul “A Muslim is the emancipated believer par excellence”.

“Saya mulai melihat Islam dengan Baca entri selengkapnya »





Hidup | Pilihan Benar dan Salah

13 05 2009

Dalam suatu acara talkshow atau semacam bincang-bincang di Televisi dihadirkanlah seorang PSK sebagai bintang tamu, kemudian si host bertanya lumayan detail seputar kehidupan dan profesi kegiatan ber- PSK tersebut, misalnya sejak kapan, berapa lama, apakah senang atau tidak pekerjaan itu, bagaimana reaksi keluarga, sampai kapan melakoni itu semua.bla..bla..tapi jarang banget yang langsung nembak dengan pertanyaan misalnya:

“Apakah anda tahu bahwa melacur adalah perbuatan zina dan itu menurut norma agama adalah dosa??

Jawaban yang mungkin sangat standar adalah “Iya saya tahu tapi bagaimana lagi, karena saya tak memiliki keahlian lain dan harus menghidupi anak-anak saya, sementara suami saya pergi entah kemana dan menelantarkan kami begitu saja…bla..bla..bla…” *sambil berurai airmata*

*terharulah para penonton dan hostnya* :D

Di ujung acara Hostnya mengatakan ”Hmm Tuhan pasti mengerti kalau anda melakukan itu demi cinta anda terhadap keluarga, kami akan selalu mendukungmu”

Di acara TV talkshow lainnya menghadirkan bintang tamu sepasang pelaku kumpul kebo (samen leven bahasa kerennya mah), seperti biasa Si Host bertanya macam-macam namun terkesan lebih hati-hati ketika terlontar pertanyaan ” Baik kita bicara bukan dalam konteks baik dan buruk ya, tapi memangnya anda tidak merasa dirugikan sebagai perempuan melakukan hal ini, apa yang membuat anda merasa nyaman dengan ini” (again!!! perempuans…)

Jawaban yang akan sangat standar pula (atau pembelaan diri) ”Ah tidak, buat kami cinta sudah cukup sebagai ikatan kuat, selama ini kami nyaman-nyaman saja menjalaninya, komitmen seperti ini sudah cukup kok, toh yang nikah juga banyak yang cerai, kalaupun punya anak kami mungkin memilih akan menikah”

Si Host agak-agak nyengir kuda, maklum di negeri ini at least dari sisi budaya masih belum lumrah meskipun sudah mulai cenderung  lumrah, haiyah klo dari sisi agama mah jangan ditanya, jawab saja pake hati nurani masing-masing.

Satu hal yang gw amatin (biasanya) dari setiap ending acara-acara yang menghadirkan bintang tamu dengan prilaku semacamnya (baca: dianggap tak lumrah) adalah kesimpulan yang tak tegas dihadapkan pada penilaian dalam konteks baik atau buruk tercover dengan alibi-alibi tertentu, seperti memberi permakluman-permakluman yang membuat hal itu semakin samar keburukannya, mungkin karena pada hari ini saat pemenuhan hawa nafsu dalam berbagai bentuk mudah dilakukan dimana untuk berbuat sebebas apapun sepertinya tak masalah meski ada istilah “kebebasan yang bertanggung jawab” Well bertanggung jawab seperti apa dan sama siapa? Kalau sama Tuhan yang memang semestinya bukan..tapi…

Hidup adalah pilihan begitu ungkapan populer yang ada..

Memang, tak ada sedikitpun konteks pemaksaan untuk setiap perilaku namun coba kita resapi baik-baik saat suatu ketika Rasulullah SAW diberi nasehat oleh Jibril yang nasehat ini tentu sebenarnya juga nasehat bagi kita.

“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau akan dihisab (dibalas) atas perbuatanmu itu dan cintailah siapa saja, yang engkau kehendai, tapisesungguhnya engakau akan berpisah dengannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang muslim itu karena shalat malamnya, dan kebesaran seorang muslim ialah karena zuhud terhadap sesama manusia”

Well, bahkan untuk soal beragama sekalipun;

“Tidak paksaan untuk memasuki agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat . Karena itu siapa yang ingkar pada thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah:256)

Pepatah bijak mengungkapkan:

“Hidup hanyalah kesempatan membuat pilihan, Segalanya bergulir dan bergilir namun sejatinya pilihan yang benar-lah yang membawa kemuliaan”

Ujar seorang kawan..So…mau pilih neraka apa syurga!!! (igh..kok jd mendadak berasa seram gw) .





Dunia

6 03 2009

Menurut ajaran Islam, dunia atau alam dunia adalah tempat tinggal sementara. Menurut keterangan hadits, dunia adalah tempat singgah bagi seorang musafir yang sedang dalam perjalanan. Sesuai dengan sifatnya sebagai tempat tinggal sementara atau tempat singgah seorang musafir, maka waktunya hanya sebentar jika dibandingkan dengan akhirat atau alam akhirat yang merupakan tempat tujuan akhir kehidupan manusia yang kekal abadi. Sebagai lawan dari alam akhirat yang sifatnya gaib atau metafisika, alam dunia berarti alam syahadah atau fisika. Dengan demikian, pengertian dunia mencakup langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam dan di antara keduanya yang dapat disaksikan.

Meskipun dunia hanya tempat tinggal sementara, Islam mengajarkan seorang muslim tidak boleh melupakan kehidupannya di dunia ini. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS Al-Qashash [28]:77).

Dalam ayat yang lain dinyatakan dunia ini diserahkan Allah SWT kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Dalam kaitan ini, Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya).” (QS An-Nahl [16]: 12). Baca entri selengkapnya »





Umar Bin Abdul Aziz

23 02 2009

“Saya tidak begitu heran melihat pertapa yang meninggalkan kesenangan duniawi agar hanya dapat menyembah Tuhan. Tapi saya sungguh kagum menyaksikan seorang pemilik kesenangan duniawi yang tinggal meraih dari telapak kakinya, tapi ia malah menutup matanya rapat-rapat dan hidup di dalam kesalehan, Setelah Yesus, jika ada orang yang mampu menghidupkan kembali orang mati, dia itulah orangnya.”

Itulah kira-kira komentar Raja Bizantium (Romawi Timur) dalam suasana duka saat menerima kabar wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 719 M.

Bisa jadi komentar tersebut terasa belebihan, apalagi jika diucapkan oleh seseorang yang baru ditinggal mati sahabatnya. Yang jelas, Umar hanya meninggalkan 17 dinar saat ia wafat. itu pun dengan wasiat agar sebagiannya digunakan untuk membayar sewa rumah tempatnya meninggal, dan sebagian lagi untuk membeli tanah pemakamannya. Umar wafat pada usia 36 di Darus Siman, dekat Hims.

Namanya adalah Umar Bin Abdul Aziz atau Umar II (Umar I adalah kakek buyutnya sendiri dari pihak ibunya, Umar bin Khattab), lahir di Halwan, Mesir tahun 63 Hijriah atau 682 Masehi dan wafat bulan Februari 720 M. Anak dari Gubernur Mesir, Abdul Aziz ini selain dikenal kesalehanya, juga masyhur lantaran kesederhanaannya. Makanannya tak lebih baik dari manakan rakyat jelata. Ia tak membangun rumah pribadi dan hanya membelanjakan 2 dirham sehari. Ia juga menyerahkan istana untuk ditinggali keluarga Sulaiman bin Abdul Malik khalifah sebelumnya. Ia juga menolak pengawalan, dengan membubarkan 600 pengawal pribadi khalifah. Sebelum menjabat khalifah, harta pribadinya menghasilkan pendapatan 50.000 per tahun. Namaun segera ia lelang dan ia serahkan ke Baitul Mal saat ia terpilih menjadi Khalifah. AKibatnya pendapatanya merosot menjadi 200 dinar pertahun. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.