Salaman Yahudi

23 09 2010

Kemarin siang, sekitar jam 2 lewat 10 saat gw pulang dari kantor yang jaraknya sepandangan dari tempat gw tinggal, as usual pamit lah kepada rekan kantor, bersalaman dengan hangat dengan cara yang sudah biasa dilakukan, senyum mengembang sambil berkata “aku duluan yah”.. and then cipika cipiki sambil tak sengaja menghirup aroma tubuhnya yang kira-kira menyamankan atau menahan nafas jika yang ada sebaliknya :D *ini mah lebay, asli!!!

After that.. She said (my friend) ” Eh ini kan salaman yahudi..”

“hah..masya, bukannya itu cara salaman kalian…” sahutku sambil nyengir.. di benak bertanya.. “is it true?… well, i dont care..”

Dia hanya tersenyum dan aku juga cepat berlalu..dan terlupakanlah topik itu, hingga  pagi yang ini tiba-tiba terinspirasi untuk iseng mencari tahu..

Lirik om Gugel yang selalu standby, aku ketikan keyword “Salaman Yahudi” hmm  ga nemu yang pas then aku ganti keywordnya jadi “cara bersalaman Yahudi” ..See!!!  i found something..termasuk gambar di bawah ini..

Hmm.. melihat caranya siy memang agak mirip seperti salaman yang biasa aku dan teman-teman lakukan tapi well sejauh ini iam not sure dan merasa tak harus menganggap ini suatu masalah penting, tapi kalau benar? i mean katakanlah ini sebuah symbol meskipun tampaknya kuno dan nyatanya gw bukan seperti Jew dan sama sekali tak bermaksud meniru mereka pastinya, tapi ini tentang symbol juga kan? simbol memberi petunjuk kepada sesuatu, sesuatu yang berupa faham tertentu yang jadi identitas budaya tertentu yang menjadi entitas komunitas tertentu dan aku bukan termasuk di dalamnya.  Jadi jika itu benar, handshake demikian mewakili entitas tertentu selayaknya aku tak mengekor kan? *kecuali sekarang rambutku bisa dikuncir ekor kuda setelah bertahun-tahun :D

Well, menulis kalimat-kalimat itu, seolah-olah topik bersalam-salaman jadi sesuatu yang rumit dan detail ya he..he.., Ah Nona..terimakasih lah, paling tidak jadi menginspirasi untuk sekedar mengupdate SENYAWA-ku dengan posting iseng ini.

Bagiamana, kalau kita ber high five aja tiap bertemu, dengan semangat ceria  and say “Assalamualaikum” sepertinya lebih aman kan? ..

Menurutmu?

Ribet!!!, jangan masukin hati lah yaaw… ;)





Feels

12 03 2010

” Rain..rain..go away come again another day, all the world waiting for the sun….

These the little lyric that i’d love to.. from Breaking Benjamin, you know as usual in our lifes we will be face our own problem, it could so complicated or simply, depend on how we thinking about, try to solve our problem with every way we can do. Yeah, we can make an analogy that for  big problem is like the kindergarten was requested to finish factoring Polynomials, it looks crazy surely, but whatever nothing imposible, it can happen to anyone or anybody.

Mostly, several people choose to walking away, avoid the hurt in their heart, hate anything for the memories in their mind, like the students at elemanary scholl that really hate about the exacta lesson although, avoid the problems but its not helpful too much, life is not likes a math, that every quiestion has their specify answer because theres  math problem solver include into, it easier than to us to finish it..

In case, maybe, actually nothing  seem difficult, if we always try and try, dont be a loser and pretend the problem, make it simply in our heart, enjoy all the process seem like we was doing our math words problem, just consider its like numbering, its all about how long we can through the bad path and after its release, we will be satisfy, no look back.. forget anything worst and try to have new hope..on the good way surely..

Yea, finally, every people have their own way.. to see their lifes from their view..





Tentang Mengasihi Hewan

8 06 2009

Melihat tingkah polah binatang terutama jenis primata dan hewan lainnya disini ternyata mengasyikan, jika saja cukup banyak waktu mungkin banyak hal yang bisa gw amati. Dan satu hal saja yang gw rasakan “takjub”

Tapi ngomong-ngomong kenapa mereka ga dibiarkan saja dibiarkan di habitat aslinya? Di alam normal tempat mereka hidup hingga naluri-naluri yang mereka miliki bisa optimal dipergunakan bukannya seperti terpenjara, sama sekali tak alami dengan apa yang disebut kandang ..bahkan dengan menciptakan habitat tiruannya tetap saja tak akan membuat mereka tumbuh dengan sifat dan karakter alaminya..

See..itulah pertanyaan yang jawabannya jelas sebenarnya, coz mereka mulai langka hingga jika tidak dilindungi maka pemburu-pemburu liar yang bekerja semata-mata karena alasan uang akan dengan senang hati membuat kerusakan hingga mereka punah. Atau ada alasan lain? Tell me…

Jadi inget waktu gw bocah ya usia SD sampai SMP, gw punya dua binatang peliharaan, Burung Kakatua Hijau dan Kucing Betina bergaris-garis oranye, yang kakatua gw kasih nama “Si Pincang” dia suka di “geget” ma Bapak, apa ya indonesianya, klo ga salah lidahnya digosokin Emas sambil dikasih mantra katanya supaya bisa niru bicara mirip beo lah, waktu itu gw ga terlalu memperdulikan soal itu, yang jelas gw yang rawat dia, kasih makan buliran padi dan dia sering nemenin gw main kelereng, ah gw inget gw nembak kelereng sambil berdiri dgn kaki kanan yang gw angkat ditekuk menyiku ada mungkin jaraknya semeter ke sasaran tembak. Wah Bingo…. I’ve got it, eh tp lupa gw main ma sapa ya..yang jelas masih SD sama bocah-bocah laki-laki temen se-RT..tapi swear gw lupa..cuma inget momen itu saja. Gw berasa sangat jagoan..bisa ngalahin temen-temen laki-laki main kelereng. :D

Oh ya, Klo kucingnya gw kasih nama Iceu, pemberian Ua (kakaknya my Mom) dia lihai sekali nangkep tikus, sehari tiga kali gw kasih makan ramesan nasi dan ikan, dua-duanya sangat penurut dan ngerti, bahkan Si Pincang ga gw sangkarin sama sekali, gw biarin bebas, klo gw pulang sekolah dia sudah muter-muter di atas dan menclok di bahu nyambut kedatangan gw.

Gw rasa, soal naluri, binatang juga sama seperti manusia, mereka punya naluri berkasih sayang, jika kita baik dan tulus sama mereka maka mereka juga akan merasakan hal serupa, itu pelajaran yang gw ambil setelah merasakkan rasanya merawat dua binatang peliharaan, yang lucunya si Iceu ma si Pincang sering bermain-main, mungkin karena merasa punya majikan yang sama, mereka terlihat akur ga pernah gw lihat si Iceu berkeinginan nangkep Si Pincang.

Jadi mengerti mengapa ada orang yang begitu tulus mendedikasikan hidupnya untuk para binatang, mungkin selain hobby ada sesuatu kepuasan yang mereka dapet, lihat saja Rob Bredl, atau Steve Irwin dan banyak lagi… Menjura gw untuk orang yang begitu peduli dan mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian para hewan, jadi keinget waktu bocah suka nonton flora dan fauna di . TVRI, baru nyadar, subhanalloh itulah keajaiban di sekitar kita yang sometimes ga kita sadari. Jadi mikir apa jadinya klo ga ada binatang di dunia ini, pasti aneh sekali…

Gw percaya, apapun makhluk hidup di sekitar kita, dia akan bereaksi menyesuaikan dengan aksi kita coz tergantung bagiamana kita memperlakukannya juga kan?

Kasih sayang akan terbayar dengan kasih sayang, Dan mestinya itulah hukum alam..





Lima L

25 05 2009

Sambil nungguin dosen yang telat mulu , gw membuka percakapan dengan seorang teman, lupa gimana awalnya tiba-tiba kita para perempuan yang masih keliatan imut sudah mature dan manis-manis ini mengobrol tentang poligami, he..he.. sepertinya bahasan yang selalu menarik sepanjang masa ya, ribet aja keknya klo ngomongin ini padahal simple aja cuma gw yakin hati perempuan manapun emang ga bisa dibikin sederhana jika ngadepin masalah kek ginian.

Hwaaaaaaaa… kebayang aja klo pasangan kita berniat poligami, pastinya berasa dunia runtuh kali ya, kiamat bow dan duh terhina dina, dilukai harga diri, dan bla…bla..bla..bermacam ribu alasan terkemuka ke permukaan.  Hey itulah situasi psikologis yang akan banyak dialami para perempuan di jaman sekarang dimana cinta erotis, atau slogan dia hanya miliku, aku hanya miliknya seorang  bak perjanjian suci yang tidak tertulis.

Hey tapi dari beberapa komunitas para perempuan yang gw “gauli” ada juga “pengecualian” terkesan di luar pakem, gimana tidak, ada seorang istri malah memohon sama suaminya untuk menjadikan sahabatnya sebagai calon istri berikutnya, dan dia juga malah memohon kepada sahabatnya supaya mau jadi istri kedua suaminya.

Hah..hah tau tidak pertanyaan di kepala gw adalah “Ada apakah di otak perempuan jenis itu atau terbuat dari apakah hati perempuan itu” . Haiyah tentu itu pertanyaan gw yang konyol sekalih, salute!! plus subhanalloh itu kata pertama yang terucap,  hahaha… pada saat kebanyakan orang memandang cinta begitu ribet  ada jenis perempuan yang “legowo” begitu rupa.

Oh ya, tentang obrolan gw ma temen gw itu, nurut pandangan doski (berasa jd remaja tahun 90-an) its okay poligami, memang ma Alloh sudah dibolehkan kok, kita para perempuan akan konyol aja klo cape-cape menentang aturan itu apalagi ingin menghilangkannya,  itu aturan sudah fitrah adanya, ya tapi laki-laki yang baik pasti rasional dalam mengukur dan memandang segala sesuatunya.

See!!!  ini dia kuncinya, apakah para lelaki itu sudah mampu menentramkan biduk yang mereka punya sebelum hendak membuat biduk baru, begitu timpal gw, yah lelaki seperti apa dulu yang layak dan  punya kapasitas untuk poligami, gw rasa para perempuan tak akan terlalu ribet menyikapinya.

Klo udahmah ga sholeh, miskin pula, atau meskipun kaya tapi otak kriminil mo poligami, plis deh …plis..plis….plis :D

Tapi gw kira, klo memandang soal ini dihubungkan dengan sikon yang dihadapi, for ex, jika seandainya kita dihadapkan saat jaman Rasulululloh dengan banyaknya perang untuk menegakkan Islam, kemudian banyak para suami gugur sebagai syuhada, apa para perempuan akan tega membiarkan saudarinya terbiar sebagai janda, itulah maka mereka saling tolong menolong dengan sukarela membiarkan para suami mereka menikahinya dengan tujuan baik. dan karena itu pulalah generasi islam juga berkembang dengan pesat dan dijaman itu tentu itu bukan suatu yang aneh, luar biasa, menyakitkan atau apalah stereotip buruk tentang pelaksanaan poligami yang melekat di jaman kini.

Ah sudahlah, memang klo ga suka sate kambing ya ga maksa, tapi ga perlu mempengaruhi orang untuk ikut-ikutan ga suka, ya kan?

“Oh ya Mba, jadi gimana nurut Mba klo misalnya suami Mba berkeinginan poligami?”

Doski tersenyum sejenak namun kemudian menyeringai, gigi geliginya yang putih kecil-kecil mendadak meruncing dan  taringnya tiba-tiba keluar, dan setelah itu suara petir terdengar menggelegar diiringi keadaan ruangan kelas yang mendadak senyap dan gelap…Tiba..tiba…. Baca entri selengkapnya »





Caleg Berujung RSJ

15 04 2009

Topik soal pemilu dan pasca Pemilu tanggal 9 april tak ada habis-habisnya untuk dibicarakan, fenomena yang unik adalah ternyata ada beberapa caleg yang kalah berujung di bangsal RSJ.

Ini jadi bahan obrolan menarik, gw pikir kenapa mesti stress siy kalau kalah, memang resikonya gitu, calon legislator banyak sementara kursi yang tersedia sedikit ya wajarlah peluang mendapatkannya juga kecil, jadi sangat mempertanyakan apa siy motif nyaleg sesungguhnya sehingga kekalahan jadi momok yang menakutkan, mungkin terlalu sarkastis kalau dibilang para calon legislator yang kalah akan menghuni rumah sakit jiwa, tapi kenyataannya emang ada, bahkan lucunya beberapa rumah sakit jiwa jauh-jauh hari sudah mempersiapkan bangsal-bangsal baru untuk caleg yang kalah, berasa sebuah dagelan ga siy.

Ya..ya..ya..  kebanyakan para caleg itu, abis-abisan tuh waktu niat nyaleg, seakan berkorban segalanya, harta alias materi, waktu tenaga dan yang jelas di otak mereka di dogmakan bahwa harus dan pasti memang dengan pengorbanan yang sebegitu banyak dan disaat kemenangan itu seperti debu yang diterbangkan angin, yang ada perasaan marah, frustrasi, dan merasa bukan apa-pa lagi, ujungnya ya bisa depresi lebih parahnya lagi gila, panen deh para psikiater.

Kasihan juga siy ya, jadi kepikir bahwa pemilu dengan cara kek gini, mempunyai unsur merusak/destruktif bagi kesehatan jiwa para pelaku yang terlibat didalamnya, pukulan berat karena kekalahan bagi si caleg, keluarga bahkan para pendukung-pendukungnya, kalau pemikiran gw, uang segitu banyak yang dipakai buat hajatan nyaleg kenapa ga dipakai untuk sesuatu yang lebih produktif dan menghasilkan atau jadi tabungan di akhirat dengan diinfaqan, Insya Alloh lebih bermanfaat kan?.

Tau ga, nurut obrolan kami, nyaleg itu kek sebuah lowongan kerja kali ya, kebanyakan berharap kalau dapet kursi maka kehidupan akan berubah drastis, dalam beberapa tahun akan punya rumah mewah, tanah luas kendaraan dan iming-iming materi yang berkecukupan, ya pokonya investasi lah (ya ga semua sepicik itu mungkin), afwan siy klo gw suudzon tapi logikanya gini aja deh, secara saat nyaleg sebegitu habis-habisan, klo ga terlalu kaya bisa utang sana-sini, dan jika dapet kursi apa siy yang pertama terlintas dalam pikiran ya pastinya cari ganti untuk modal yang sudah dikeluarkan, ya kan? Visi misi yang idealis yang diumbar saat kampanye sudah dilupakan entah kemana, mungkin tersembunyi di alam bawah sadarnya.

Jika dipikir lebih jauh ya itu tadi, kenyataan di lapangan mengukuhkan sebutan pemilu yang mengorbankan kesehatan jiwa warga bangsa, coz kenyataannya adalah Pertama, pemilu memberi inspirasi bagi warga untuk mencari kekayaan dari kedudukan sebagai legislator. Kedua, pemilu mengharuskan calon legislator mengeluarkan banyak uang pribadi. Hal ini mengkondisikan calon legislator yang memenangi kursi legislator mencari uang pengganti sebanyak mungkin dari jabatan legislator yang diraihnya. Ketiga, pemilu membuka kemungkinan praktik politik uang yang mewakili perbuatan tidak dewasa dan tidak sehat secara mental. Keempat, kampanye dalam rangka pemilu dapat menjadi ajang peluapan aneka dorongan kekerasan primitif warga. Kelima, kampanye menggiring warga memilih dengan pertimbangan amat dangkal, misalnya hanya berdasarkan popularitas tanpa rasionalitas memadai (unisosdem).

Pemilu telanjur dibanggakan sebagai atribut bangsa dan negara Indonesia yang demokratis. Indonesia sangat terbuai dengan pujian barat yang menganggap Indonesia adalah negara paling demokratis, sangat memberikan ruang yang luas bagi kebebasan penduduknya untuk ber”suara” padahal itu tak lebih pujian yang mengandung perangkap yang membuai seolah-olah itu sesuatu yang benar dan prestasi yang sangat tinggi, padahal nyatanya sistem yang dipakai dan orang-orang Indonesia itu “sakit”. Pemilu sebagai pesta demokrasi telah menyita waktu, tenaga, perhatian, dan dana. Rasanya segala pengorbanan itu malah ironis dengan akibat yang ditimbulkan pada bangsa ini.

Caleg? Ah klo ngasal daftar, ngasal nyalon, ngasal absen mungkin keputusaan yang akan dihasilkan juga, ngasal memutuskan, ngasal ada, apa mungkin ada mekanisme seleksi dengan standar jelas ya laiknya fit and propher untuk menjadi caleg.

Pertanyaan selanjutnya, standar apa yang ideal untuk mengatakan seseorang itu laik jadi legislator, jadi orang nomor satu untuk negeri ini, sementara faktanya demokrasi justru malah menciptakan orang-orang yang oportunis dan yang sejenis nis..nis…

So..one question that blowing in mind?

Apakah pemilu kali ini dengan sistem demokrasi yang sudah lama diadopsi pada kenyataannya bisa melakukan perubahan?

Demokrasi Pak, Bu, Om, tante, ?

Ah tidak terimaksih, sudah kenyang he..he..

*senyum paling imut* ;)








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.