Topik soal pemilu dan pasca Pemilu tanggal 9 april tak ada habis-habisnya untuk dibicarakan, fenomena yang unik adalah ternyata ada beberapa caleg yang kalah berujung di bangsal RSJ.
Ini jadi bahan obrolan menarik, gw pikir kenapa mesti stress siy kalau kalah, memang resikonya gitu, calon legislator banyak sementara kursi yang tersedia sedikit ya wajarlah peluang mendapatkannya juga kecil, jadi sangat mempertanyakan apa siy motif nyaleg sesungguhnya sehingga kekalahan jadi momok yang menakutkan, mungkin terlalu sarkastis kalau dibilang para calon legislator yang kalah akan menghuni rumah sakit jiwa, tapi kenyataannya emang ada, bahkan lucunya beberapa rumah sakit jiwa jauh-jauh hari sudah mempersiapkan bangsal-bangsal baru untuk caleg yang kalah, berasa sebuah dagelan ga siy.
Ya..ya..ya.. kebanyakan para caleg itu, abis-abisan tuh waktu niat nyaleg, seakan berkorban segalanya, harta alias materi, waktu tenaga dan yang jelas di otak mereka di dogmakan bahwa harus dan pasti memang dengan pengorbanan yang sebegitu banyak dan disaat kemenangan itu seperti debu yang diterbangkan angin, yang ada perasaan marah, frustrasi, dan merasa bukan apa-pa lagi, ujungnya ya bisa depresi lebih parahnya lagi gila, panen deh para psikiater.
Kasihan juga siy ya, jadi kepikir bahwa pemilu dengan cara kek gini, mempunyai unsur merusak/destruktif bagi kesehatan jiwa para pelaku yang terlibat didalamnya, pukulan berat karena kekalahan bagi si caleg, keluarga bahkan para pendukung-pendukungnya, kalau pemikiran gw, uang segitu banyak yang dipakai buat hajatan nyaleg kenapa ga dipakai untuk sesuatu yang lebih produktif dan menghasilkan atau jadi tabungan di akhirat dengan diinfaqan, Insya Alloh lebih bermanfaat kan?.
Tau ga, nurut obrolan kami, nyaleg itu kek sebuah lowongan kerja kali ya, kebanyakan berharap kalau dapet kursi maka kehidupan akan berubah drastis, dalam beberapa tahun akan punya rumah mewah, tanah luas kendaraan dan iming-iming materi yang berkecukupan, ya pokonya investasi lah (ya ga semua sepicik itu mungkin), afwan siy klo gw suudzon tapi logikanya gini aja deh, secara saat nyaleg sebegitu habis-habisan, klo ga terlalu kaya bisa utang sana-sini, dan jika dapet kursi apa siy yang pertama terlintas dalam pikiran ya pastinya cari ganti untuk modal yang sudah dikeluarkan, ya kan? Visi misi yang idealis yang diumbar saat kampanye sudah dilupakan entah kemana, mungkin tersembunyi di alam bawah sadarnya.
Jika dipikir lebih jauh ya itu tadi, kenyataan di lapangan mengukuhkan sebutan pemilu yang mengorbankan kesehatan jiwa warga bangsa, coz kenyataannya adalah Pertama, pemilu memberi inspirasi bagi warga untuk mencari kekayaan dari kedudukan sebagai legislator. Kedua, pemilu mengharuskan calon legislator mengeluarkan banyak uang pribadi. Hal ini mengkondisikan calon legislator yang memenangi kursi legislator mencari uang pengganti sebanyak mungkin dari jabatan legislator yang diraihnya. Ketiga, pemilu membuka kemungkinan praktik politik uang yang mewakili perbuatan tidak dewasa dan tidak sehat secara mental. Keempat, kampanye dalam rangka pemilu dapat menjadi ajang peluapan aneka dorongan kekerasan primitif warga. Kelima, kampanye menggiring warga memilih dengan pertimbangan amat dangkal, misalnya hanya berdasarkan popularitas tanpa rasionalitas memadai (unisosdem).
Pemilu telanjur dibanggakan sebagai atribut bangsa dan negara Indonesia yang demokratis. Indonesia sangat terbuai dengan pujian barat yang menganggap Indonesia adalah negara paling demokratis, sangat memberikan ruang yang luas bagi kebebasan penduduknya untuk ber”suara” padahal itu tak lebih pujian yang mengandung perangkap yang membuai seolah-olah itu sesuatu yang benar dan prestasi yang sangat tinggi, padahal nyatanya sistem yang dipakai dan orang-orang Indonesia itu “sakit”. Pemilu sebagai pesta demokrasi telah menyita waktu, tenaga, perhatian, dan dana. Rasanya segala pengorbanan itu malah ironis dengan akibat yang ditimbulkan pada bangsa ini.
Caleg? Ah klo ngasal daftar, ngasal nyalon, ngasal absen mungkin keputusaan yang akan dihasilkan juga, ngasal memutuskan, ngasal ada, apa mungkin ada mekanisme seleksi dengan standar jelas ya laiknya fit and propher untuk menjadi caleg.
Pertanyaan selanjutnya, standar apa yang ideal untuk mengatakan seseorang itu laik jadi legislator, jadi orang nomor satu untuk negeri ini, sementara faktanya demokrasi justru malah menciptakan orang-orang yang oportunis dan yang sejenis nis..nis…
So..one question that blowing in mind?
Apakah pemilu kali ini dengan sistem demokrasi yang sudah lama diadopsi pada kenyataannya bisa melakukan perubahan?
Demokrasi Pak, Bu, Om, tante, ?
Ah tidak terimaksih, sudah kenyang he..he..
*senyum paling imut*
Your Words