Lima L

25 05 2009

Sambil nungguin dosen yang telat mulu , gw membuka percakapan dengan seorang teman, lupa gimana awalnya tiba-tiba kita para perempuan yang masih keliatan imut sudah mature dan manis-manis ini mengobrol tentang poligami, he..he.. sepertinya bahasan yang selalu menarik sepanjang masa ya, ribet aja keknya klo ngomongin ini padahal simple aja cuma gw yakin hati perempuan manapun emang ga bisa dibikin sederhana jika ngadepin masalah kek ginian.

Hwaaaaaaaa… kebayang aja klo pasangan kita berniat poligami, pastinya berasa dunia runtuh kali ya, kiamat bow dan duh terhina dina, dilukai harga diri, dan bla…bla..bla..bermacam ribu alasan terkemuka ke permukaan.  Hey itulah situasi psikologis yang akan banyak dialami para perempuan di jaman sekarang dimana cinta erotis, atau slogan dia hanya miliku, aku hanya miliknya seorang  bak perjanjian suci yang tidak tertulis.

Hey tapi dari beberapa komunitas para perempuan yang gw “gauli” ada juga “pengecualian” terkesan di luar pakem, gimana tidak, ada seorang istri malah memohon sama suaminya untuk menjadikan sahabatnya sebagai calon istri berikutnya, dan dia juga malah memohon kepada sahabatnya supaya mau jadi istri kedua suaminya.

Hah..hah tau tidak pertanyaan di kepala gw adalah “Ada apakah di otak perempuan jenis itu atau terbuat dari apakah hati perempuan itu” . Haiyah tentu itu pertanyaan gw yang konyol sekalih, salute!! plus subhanalloh itu kata pertama yang terucap,  hahaha… pada saat kebanyakan orang memandang cinta begitu ribet  ada jenis perempuan yang “legowo” begitu rupa.

Oh ya, tentang obrolan gw ma temen gw itu, nurut pandangan doski (berasa jd remaja tahun 90-an) its okay poligami, memang ma Alloh sudah dibolehkan kok, kita para perempuan akan konyol aja klo cape-cape menentang aturan itu apalagi ingin menghilangkannya,  itu aturan sudah fitrah adanya, ya tapi laki-laki yang baik pasti rasional dalam mengukur dan memandang segala sesuatunya.

See!!!  ini dia kuncinya, apakah para lelaki itu sudah mampu menentramkan biduk yang mereka punya sebelum hendak membuat biduk baru, begitu timpal gw, yah lelaki seperti apa dulu yang layak dan  punya kapasitas untuk poligami, gw rasa para perempuan tak akan terlalu ribet menyikapinya.

Klo udahmah ga sholeh, miskin pula, atau meskipun kaya tapi otak kriminil mo poligami, plis deh …plis..plis….plis :D

Tapi gw kira, klo memandang soal ini dihubungkan dengan sikon yang dihadapi, for ex, jika seandainya kita dihadapkan saat jaman Rasulululloh dengan banyaknya perang untuk menegakkan Islam, kemudian banyak para suami gugur sebagai syuhada, apa para perempuan akan tega membiarkan saudarinya terbiar sebagai janda, itulah maka mereka saling tolong menolong dengan sukarela membiarkan para suami mereka menikahinya dengan tujuan baik. dan karena itu pulalah generasi islam juga berkembang dengan pesat dan dijaman itu tentu itu bukan suatu yang aneh, luar biasa, menyakitkan atau apalah stereotip buruk tentang pelaksanaan poligami yang melekat di jaman kini.

Ah sudahlah, memang klo ga suka sate kambing ya ga maksa, tapi ga perlu mempengaruhi orang untuk ikut-ikutan ga suka, ya kan?

“Oh ya Mba, jadi gimana nurut Mba klo misalnya suami Mba berkeinginan poligami?”

Doski tersenyum sejenak namun kemudian menyeringai, gigi geliginya yang putih kecil-kecil mendadak meruncing dan  taringnya tiba-tiba keluar, dan setelah itu suara petir terdengar menggelegar diiringi keadaan ruangan kelas yang mendadak senyap dan gelap…Tiba..tiba…. Baca entri selengkapnya »





Siap Boss

15 03 2009

Disclaimer: Bacaan ini khusus dipraktekan buat pasutri dan semacamnya :D (lebih afdol bow)

Hmm berantem? pasti jadinya BT, kesal, marah, sedih trus suka bingung gimana caranya baikan, yang jelas salah satunya mesti ada yang ngalah dulu kali ya, klo engga dijamin tuh soalan ga kelar-kelar dan silahkan kesal, pusing sedih bahkan nangis sampai mati

Hmm…kek..kek..gini gampang-gampang susyah juga siy, singkirkan dulu lah dari hati kalian berdua (hmm berdua loh) soal merasa kalah menang and fokuskan untuk cari solusi bukannya serba tidak peduli, klo berumah tangga sampai ga ada konflik sama sekali yah ga mungkin juga kali, dan itu sesuatu yang sudah biasa, gila aja nyatuin dua perbedaan yang nyatanya ga akan pernah jadi satu, punya satu kepala aja ribet palagi mesti nyatuin dua kepala, sumprit ribet banget dan nyadar ga? ternyata oh ternyata lebih ribet yang punya banyak kesamaan daripada yang banyak perbedaan, percaya gw deh, coba klo sama-sama kepala batu, sama-sama suka ingin menang sendiri. Nahh itu salah satu contohnya.

Well boleh believe or not ternyata ritual teh mengeteh banyak manfaatnya sebagai salah satu cara untuk berdamai dengan pasangan anda (pasangan anda lo bukan pasangan orang lain) duduk berdua beberapa jenak (minimal lima menit lah ya) sambil minum teh hangat bisa membuat segalanya membaik, rutinitas ini secara efektif dapat digunakan sebagai cara untuk menunjukkan perhatian antar pasutri, membahas persoalan atau minimalnya menanyakan keadaan doi hari ini (so sweet ya :) ) meski kesannya standar dan sederhana banget tapi jika dilakukan dengan tulus, penuh cinta dan kasih sayang tentu aja bisa meningkatkan keharmonisan hubungan, gitu katanya.

Oh ya lebih asyik siy ngetehnya secangkir gede berdua selain pengiritan gula dan teh (bilang aja pelit ya) kan lebih romantis he..he.. (doh jd teringat diri sendiri) :P

Kenapa dengan Teh?

Telisik punya telisik teh mengandung theanine yang bisa memberikan efek rasa tenang pada diri, sehingga momen menikmati teh menjadi saat yang tepat untuk berbicara, berbagi dan menyambung rasa dengan pasangan. ya jadi ga semata-mata ngeteh krn abis berantem juga kali. yang jelas Mari ngeteh mari bicara!!! ya kan?

Mau tau lebih banyak tentang teh baca disini aja ya

Gimana, mau ga bikinin pasangan anda teh?, oh ya nurut gw siapa ajalah yang bikin, ga mesti si istri, coba deh sekali-sekali para hubby turun ke dapur dan bikinin istri anda (sekali lagi istri anda bukan istri orang lain lho) teh manis hangat dijamin dah, dia mungkin bakal tambah tergila-gila dan mabuk kepayang plus tambah cinta, apa yang anda minta pasti dikasih segalanya *halah apa coba :D

Ya..ya.. ya.. tentu ini cuma salah satu cara aja..masih banyak lah cara2 lain klo mau tau tanya aja om gugel.

Huhuhu.. i love my Black Tea…..ah tentu aja ke  si dia juga…
Mwaahhhh!!!

“Eh bikinin the dong Suaz!! :P

“Siap Boss”





Tolong Percayai Aku…..

25 03 2008

Suatu ikatan pernikahan sudah semestinya terbangun dari dasar saling cinta dan saling percaya. Tetapi jika pasangan anda menunjukkan tanda-tanda tidak jujur, tidak bisa dipercaya, apakah perlu anda memata-matainya? Apalagi kesempatan untuk berkomunikasi hampir tidak ada sehingga membuat pikiran anda kepada pasangan penuh kecurigaan. Tapi sebaiknya anda lakukan beberapa langkah berikut ini.

Jangan pernah ragu untuk percaya karena mempercayai pasangan adalah mutlak adanya. Karena komunikasi dan kerjasama tidak akan terjalin dengan baik jika rasa percaya tidak muncul dalam setiap interaksi. Jika ada yang beranggapan bahwa kepercayaan yang anda jangan 100% maka menandakan bahwa anda masih ragu. Jika anda memberikan kepercayaan sepenuhnya pada pasangan maka pasangan anda pun tanpa diminta akan berlaku sama pula.

Kepercayaan terhadap pasangan merupakan pondasi awal untuk membangun sebuah mahligai rumah tangga yang kokoh. Memang terkesan klise tetapi sangat besar arti dan pengorbanannya. . Waspada perlu.  Jika kepercayaan penuh telah anda berikan tetapi ternyata pasangan anda tidak melakukan hal yang sama maka anda jangan pernah merasa bersalah karena telah bersikap bodoh atau kuno.

Cobalah anda teliti kembali komunikasi anda berdua sehari-hari, apakah komunikasi tersebut hanya untuk memenuhi kewajiban semata. Karena faktor komunikasi itu penting dalam membangun persepsi yang sama, terlebih lagi untuk membangun keharmonisan. Pasangan yang tidak bisa dipercaya sebenarnya sudah bisa anda deteksi dari awal. Saat pasangan anda memberi keterangan atau jawaban tidak pernah tuntas dan bila anda terus mendesak maka dia akan menghindar.

 Jika pasangan anda sudah mulai memperlihatkan gejala seperti itu maka anda harus waspada. Tapi jangan sampai anda mengurangi rasa percaya dan mulai memberi peluang pada pikiran negatif sehingga memperkuat rasa curiga.

Yang harus anda lakukan adalah mengintropeksi diri anda. Cobalah anda cari penyebabnya, mengapa pasangan anda tiba-tiba tidak jujur, tidak mau bercerita apa adanya dan hal-hal lainnya. Dengan mengintropeksi diri maka anda bisa menemukan jawaban yang anda butuhkan dan anda bisa memperbaiki keretakan rumah tangga anda.
Sebenarnya hal ini berawal dari komunikasi yang tidak baik.

Jika pasangan yang tidak bisa menerima alasan ataupun pasangan yang sulit memahami arah komunikasi saat diajak biicara, pasangan yang merasa dirinya benar atau pasangan yang tidak dapat dipercaya merupakan kumpulan dari penyebab komunikasi yang tidak bagus. Jika pasangan anda sudah tidak bisa dipercaya lagi maka komunikasi tetap harus terjaga dan pantau terus setiap jawaban yang diberikan olehnya. Bila anda bisa sedikit sabar dan ulet maka anda bisa membuatnya tanpa sengaja berterus terang kepada anda.

Sebaiknya jangan jadi mata-mata. Curiga memang sikap yang paling mudah dilakukan, yaitu protes, bersuara menyelidik dan segala yang dikatakan pasangan ditolak mentah-mentah. Biasanya curiga akan berbuntut memata-matai dan berujung pada kekecewaan. Mungkin pada awalnya anda hanya ingin memenuhi rasa ingin tahu anda atas perbuatan yang dilakukan pasangan anda diluar rumah tetapi lama kelamaan akan berbuntut balas dendam karena anda merasa sakit hati.

Sikap memata-matai sebenarnya hanya akan membuat pikiran anda menjadi sakit dan proses pengembalian kepercayaan pun akan semakin sulit. Hal ini karena kekuatan diri anda sudah terfokus pada pikiran negatif untuk memenuhi rasa sakit hati. Jadi akan lebih baik jika anda hilangkan pikiran negatif agar anda bisa membedakan mana khayalan dan kenyataan. Karena jika ternyata apa yang anda takutkan tidak dilakukan oleh pasangan anda maka hanya akan mengganggu pikiran anda.

Jadi anda harus tetap bersikap positif, intropeksi diri dan ridak memberi peluang pada rasa curiga agar kesembuhan hati anda jadi jauh lebih cepat. Sehingga hidup dan pikiran anda akan jauh lebih sehat daripada anda sibuk memata-matai serta penuh dengan kecurigaan. Semoga berhasil. (disadur dari perempuan.com)





Awas, Si Kecil Kebablasan….

24 03 2008

Masih nganggap tivi alat hiburan? Mudah2an anak2 kita gak ikut2an nyosor kayak Tukul, atau jadi perempuan macam Sarah Jessica Parker di Sex and The City, ntar jadinya kayak gini… Open your eyes, start to care, turn off the TV!

Awas, Si Kecil Kebablasan!

Dr Boyke Dian Nugraha geleng-geleng kepala mendengar penuturan pasiennya. Sebut saja Indah, 36 tahun, asal Sukabumi yang menangis histeris menceritakan kelakuan putrinya, Nita, 11 tahun. Bersama dua teman sekelasnya di sekolah menengah pertama, Nita melakukan aib memalukan keluarga dan sekolah. “Semua salah kami, memberikan kebebasan kepadanya menonton tayangan apa pun tanpa diawasi, termasuk di Internet,” papar Indah sesenggukan.

Tangisnya pecah begitu mendengar pengakuan putri kesayangannya meniru adegan bercinta di film Sex in the City bersama kakak kelasnya. Menurut Boyke, kasus Nita belum seberapa. Ada pasien lain yang mengeluhkan putrinya yang baru berusia 7 tahun saat ngobrol dengan teman sebayanya cekatan menyebut foreplay, petting, making love, dan sejenisnya.

Pemilik Klinik Pasutri di bilangan Tebet ini pun menyebut kisah lain: seorang remaja putri berusia 12 tahun yang diledek temannya karena belum pernah pacaran dan berciuman. Karena penasaran, remaja itu mencari tahu di Internet. Tertarik mempraktekkan, ia meminta dan membayar sopir rumahnya. “Tidak hanya ciuman, si sopir bejat itu justru mengajak tahap yang lebih hot, yaitu bercinta. Akibatnya, si kecil ketagihan, kebablasan, hingga hamil dan bikin gempar semua (anggota keluarga),” ujar pakar seks tersebut masygul.

Sederet cerita tersebut bukan ilusi, tapi peristiwa yang kian dekat dan sering terjadi. Kini para belia itu sangat piawai dan tahu akan seks melebihi orang tuanya. “Ini bukan pendidikan seks, melainkan pengetahuan soal seks yang kebablasan dan berakibat fatal,” kata dokter berkulit putih ini dengan nada gemas.

Tiga tahun lalu ia hanya melayani pasien dewasa seputar keluhan masalah mereka. Tapi sekarang, pasutri yang datang “curhat” soal sederet cerita aneh soal seks buah hatinya. Boyke mengakui kemampuan anak masa kini, yang disebut di era generasi platinum, begitu cepat dan mudah menyerap pengetahuan dan teknologi.
Alhasil, jangan heran jika para bocah bau kencur itu sudah pandai berselancar ke situs-situs dewasa. “Yang paling penting, memberikan pendidikan seks buat anak harus perlu pendampingan,” Boyke berpesan.

Senada dengan Boyke, Elly Risma, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati yang aktif memberikan pendidikan kesehatan reproduksi untuk anak-anak sekolah, menyebut pentingnya pendampingan dari orang tua, guru, dan lingkungan. “Mereka harus mengikuti perkembangan atau melakukan update seputar informasi terbaru seksologi supaya ilmunya tidak ketinggalan,” ujarnya.

Alzena Masykouri, pengajar luar biasa di Fakultas Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta, mengatakan keluarga merupakan pagar pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di dalam dan di luar rumah.
Pesatnya pengetahuan seks mereka, terutama dampak kemajuan teknologi yang dekat dengan dunia generasi platinum, perlu diwaspadai. “Orang tua jangan “gaptek”. Perlu mengimbangi (anak). Sebaiknya mendampingi (mereka) dan menyaring informasi agar anak tak salah langkah,” ujarnya.
Alzena mengingatkan, dari sisi kejiwaan, si anak harus pandai menyerap dan memilah informasi mana yang benar dan tidak tepat buatnya. Untuk moral, jangan sampai anak terlalu larut berpikir bebas mengadopsi informasi dunia Barat.

Tip Aman (Dr Boyke Nugraha memberi tip agar buah hati aman memahami mengenai seks.)
• Lengkapi diri Anda dengan pengetahuan terbaru.
• Jangan lupa pelajari masalah anatomi, fisiologi, biologi, moral, dan etika.
• Jangan salahkan kemajuan teknologi. Tanamkan nilai-nilai moral dan dampingi saat mereka mengakses internet.
• Berilah batasan-batasan soal pemanfaatan teknologi, misalnya mengakses Internet hanya buat mengerjakan tugas sekolah.
• Tempatkan komputer di ruang keluarga dan bukan di ruang pribadi.
• Hati-hati memberikan telepon genggam.
• Seringlah berdiskusi dan manfaatkan momen itu untuk memberi pendidikan seks sesuai dengan usia, kemampuan, dan cara berpikirnya.
• Tanamkan rasa tanggung jawab pada si kecil. Beri pengertian bahwa tiap perbuatan, termasuk soal seks, selalu ada risiko dan tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Dari berbagai sumber








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.