Avatar with Aang, Shaka, dan Katarra

11 04 2008

Sejak kartun avatar muncul di layar kaca, gw langsung suka, jadi walaupun  diulang-ulang rasanya lom bosan menonton,  jadinya sudah jadi jadwal tetap nonton Avatar tiap hari :) , ga tahu gw lebih suka nonton kartun sejenis itu daripada sinetron-sinetron mellow yang lama-lama bisa sangat memuakkan dan makin aneh alur ceritanya cuma karna punya rating bagus, *Tak suka bukan berarti benci atau phobi :) *

Di setiap episode avatar selalu saja bisa buat mata gw berkaca-kaca entah itu karena  adegan mengharukan atau adegan yang memang sedih, mungkin pesan moral yang disampaikan lumayan bagus, terlpas dari pemikiran dan faham mana yang dipakai sebagai acuan , tapi pesan moralnya memang lebih bersifat universal, misalnya tentang keteguhan hati, keberanian melawan kejahatan, membela kebenaran, kesetiakawanan dll, dan selalu ada dialog-dialog humoris yang terkesan cerdas, itu bagian yang paling keren menurut gw.

Tapi adegan yang paling menyedihkan dan membuat gw nangis adalah saat Pangeran Zhuko memotong  ikatan rambutnya sebagai tanda bahwa dia telah melepaskan diri dari klannya karena dia yakin sudah tak diterima dan diakui sebagai anggota klan dari negara api, duh bener2 menyentuh dan sedih deh, Bravo lah buat kartun yang satu ini.

Beda banget kalau pas nonton tentang pemberitaan negeri ini, kebanyakan geram sedih plus bingung, hendak dibawa kemana negeri yang katanya  gemah ripah loh jinawi, jamrud khatulistiwa, dan sebutan-sebutan indah lainnya. Cuma indah di bibir tapi tak seindah fakta dan realitanya.

 

 





Efek Ayat-Ayat Cinta

18 03 2008

Ditengah maraknya film-film horor (perhantuan, perpocongan dsb…..)  dan film romance yang dominan menghiasi Perfilman Nasional yang katanya sedang menuju era kebangkitannya kembali setelah mati suri beberapa tahun lalu maka film AAC yang terasa begitu  fenomenal ditandai dengan jumlah penonton yang sudah mencapai dua juta sejak rilis bulan februari lalu, tak pelak AAC begitu membius banyak kalangan hingga tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan pun ramai-ramai menonton dan menganjurkannya kepada masyarakat umum, kesuksesan AAC ini sepertinya akan terus berlanjut mengikuti kesuksesan dari novelnya terdahulu yang sudah jadi Best seller.

Terlepas dari pro dan kontra serta promosi yang jor-joran, film besutan Hanung Bramantyo bisa dibilang seperti menciptakan trend baru dalam  perfilman nasional rasanya belum ada film yang begitu menciptakan magnet yang kuat pada masyarakat hingga ada kalangan yang tadinya bisa disebut anti bioskop (maaf kalau keliru ; misalnya kalangan aktivis dakwah alias para ikhwan dan akhwat; kalau gw masih ikhwit kali  :)    )  ikut berduyun-duyun antri menyaksikan visualisasi dari novel AAC ini.

“Bagaikan Oase di tengah padang pasir”  sepertinya tak salah dialamatkan kepada film AAC, kehadirannya seolah-olah melawan arus (ditengah maraknya film perhantuan/horor/mistis./cinta….) karena isinya begitu sarat  dakwah dan mempunyai muatan-muatan spiritual keagamaan yang begitu kental yang selama ini jarang diangkat sebagai tema film karena mungkin dianggap tidak komersial, tapi kemudian seolah paradigma ini keliru karena terbukti film berbau spiritual ini disukai oleh masyarakat.

Menurut pemikiran gw,, katakan saja gw berhusnudzon meski mungkin terlalu hiperbolis, fenomena AAC bisa jadi tidak terlepas dari keinginan manusia untuk kembali melihat dan menyelami sisi kehidupan spritual yang dijalani dalam kehidupan, ya ditengah-tengah peradaban dan pola hidup manusia jaman kini yang terasa begitu gersang, permisif, hedonis, sekuler dll,  merasa tidak menemukan ketenangan bathin dan kedamaian jiwa karena kering dari kesejukan iman dan pencerahan agama, maka seolah-olah karakter-karakter dalam AAC mewakili sosok-sosok ideal yang didambakan, pola hidup yang lurus yang konsisten menjalankan aturan Illahi serasa terwakili lewat penokohan dan cerita yang disajikan, bisa jadi pada dasarnya, manusia sudah mulai jenuh dengan kehidupan amburadul semacam sekarang (tidak bermaksud men-generalkan karena yakin masih banyak juga manusia2 lurus di bumi ini ditengah hantaman badai sekularisme) dan ingin kembali hidup menyesuaikan diri dengan aturan Illahi.

Tapi apa betul begitu, sebenarnya apa yang kita dapatkan setelah baca novel atau nonton AAC ini, apa benar memberikan perubahan dalam diri kita (seperti motto novelnya sebagai “pembangun jiwa” ) hingga akhirnya jiwa kita tergugah untuk menjadi lebih baik paling tidak ditandai dengan perubahan dalam keseharian, misalnya yang tadinya sholat bolong-bolong , males baca qur’an, suka nongkrong-nongkrong ngabisin waktu ga jelas terus berubah jadi pribadi yang lebih taat dan alim atau lebih jauhnya ternyata jadi tergugah ingin belajar agama lebih dalam dan jadi aktivis dakwah karena punya niat mulia ingin merubah masyarakat (hmm…..Alhamdulillah banget ya kalau begitu)

Atau  nonton AAC cuma ngikutin trend karena takut dibilang ga gaul plus ketinggalan jaman istilahnya secara hari gini ga tahu AAC, wiih norak deh he… he…” trus pas mau nontonnya lu datang berjam-jam sebelumnya ngantre di loket karena takut ga kebagian tiket sampe lu lupa sholat (its the point)  and di kepala masih terngiang-terngiang nyap-nyap bonyok di rumah karena lu lom kerjain tugas-tugas rumah and diamanatin jangan sampai lupa waktu karena keasyikan  nonton dan keluar dari bioskop dengan mata sembab karena kebanyakan nangis terharu plus ribut ceritain kembali ma sohib-sohib gimana tu film mengugah hati dan berencana nonton lagi di pemutaran berikutnya,  but di keseharian selanjutnya loe tetep gitu-gitu aja alias semua ketergugahanmu itu ga ngefek  dalam perilaku selanjutnya  jadi cuma dapat airmata dan hati yang sebatas tersentuh dan terharu :) atau malah jadi bermimpi punya cowok idaman seperti fahri (maunya gitu lho he…he… ada sie tapi mungkin ceweknya juga mesti kayak aisha kali……..kan laki2 yang baik untuk wanita yang baik begitupun sebaliknya. )

So what next……jadi setelah itu apa……..terserah personal masing-masing sesuai dengan option mana diantara dua dampak tersebut. Mudah-mudahan AAC tidak sekedar booming dari segi komersial tapi kemudian menjadikan boomingnya kelahiran pribadi-pribadi baru yang lebih alim dan islami. Amin Ya Rabb. Wallahu’alam





Serial Jadul

12 03 2008

Entah kenapa, gw jadi keinget dan terkenang serial TV jaman dulu  di TVRI sekitaran tahun 86-an lah gw masih SD tuh, kenapa TVRI ya soalnya waktu itu di kampung  gw cuman bisa nonton TVRI walaupun listriknya bukan dengan PLN tapi pakai Accu (baca; aki)  yang suka dicharge dengan distrum (gw ga tahu istilah tepatnya), ya pokoknya gitu deh kalau Aki-nya mulai habis tuh layar TV menciut dan daku sangat kecewa dan bisa uring-uringan palagi kalau lagi nonton acara kesukaan yg lagi seru-serunya, duh musti tunggu  buat dibawa ke tukang strum dan butuh waktu sekitar 4 jam lebih ngechargenya.

Ya baru punya TV sendiri yang super tebel dan hitam putih pula di bingkai  kayu mereknya SHARP itupun dapet nyicil dari sepupu gw yg tinggal di jakarta (buka rahasia nie;jadi ingin malu)  rasanya seneeeeeeeeng banget serasa dapat lotere he..he.. dan ternyata  tuh TV kasih banyak kenangan dan dampak besar buat gw  karena akhirnya sampai sekarang gw jadi maniak nonton nie :) , terutama film2 yang berbau horor, thriller, psikologi ya semacam itu deh. so apa yang kamu suka ??? :)

Oh ya balik lagi ke serial kesyangan gw, yang menurut otak anak kecil gw waktu itu rasanya keren dan very very bagusssss (inget cinta laura nie..) dan gw ga pernah dilarang nntn tayangan apapun ya mungkin karena awal-awal nontonnya jg numpang di tetangga…..jadi cuma sebentar tapi gw selalu berusaha ngikutin tuh serial.

Nie yang gw inget:
Border Town
Twin Peaks
The Bold And The beautiful
Sledge Hammer

Street Hawk
Ohara
Friday The 13
(ini kalau ga salah gw dah SMP, i really love this serial…horror, mistik tapi smart..)
Swans Crossing (ini gw SMU)
Robocop
Vicky The Viking
(kalau dia mikir suka gosok-gosok pinggir batang idung pake telunjuknya tuh )
Abbot and Costello (Kartun Gokil abiz)
Flora dan fauna
Keluarga Rahmat (Tokoh Jojo yang diperanin Dede Yusuf=natural banget keren lah )
Sartika (Ini baru2 gw punya TV , rumah kayak bioskop, seminggu pertama tetangga membludak nonton di rumah gw……..Tokoh utamanya Dwi Yull ma Dwi Yan)
Fun House (kuis kalo ga salah)
Our House
(masih inget Chad Allen……..)
Kura-Kura Ninja

Kayaknya masih banyak cuma ga inget semua, tapi swear deh, kalau bisa gw mau nonton lagi terutama Twin Peaks (secara gw ga tahu endingnya keburu stop tayang….hiks hiks… tega amat sie) ma Friday the 13 juga masih inget kan ma tokoh Jack yang berjanggut itu.

Kalau ntar malem ada bintang jatuh mau “make a wish” , tapi siapa juga yang kan peduli dan mengabulkannya, btw buat pembaca ada yang tahu ga store yang sell CD beberapa serial di atas, mungkin bisa kasih tahu alamatnya :)

maksih ya sebelumnya……tapi apakah ada yang  kangen semua serial itu seperti diriku (tanda tanya…..).





Apocalypto

12 03 2008

aaapoo.jpg

Nonton Apocalypto serasa dibawa ke dunia lain, dunia yang kebanyakan orang bilang miskin peradaban tapi menurutku justru mereka punya peradaban yang sangat khas dan berkarakter, entah itu setting atau storynya berdasarkan keadaan yang mendekati realita sebenarnya atau murni khayalan, tapi jujur aku sangat terhanyut dan tak bisa berhenti untuk menontonnya, malah sampai kuulang lagi.

Its very great movie, n buat Rudy Youngblood si Jaguar paw, you really make it real. salut lah two thumbs up, ini cerita epik yang benar-bener apik mulai dari penokohan dan kostum, make up and penghayatan penokohannya, meski ga dipungkiri tema ceritanya sederhana namun pesan yang disampaikan sangatlah jelas yaitu bagaimana seseorang berusaha untuk tetap hidup dengan melewati segala rintangan demi kembali kepada orang-orang yang dicintai, demi mempertahankan hak hidup.

Nyata sekali sisi kemanusiaan yang ditonjolkan, meski yang kufahami suku-suku terasing itu kadangkala melakukan ritual-ritual yang mungkin menurut manusia sekarang sama sekali ga logis dan menjijikan namun di balik itu philosophy yang mereka miliki sangat menyentuh dan dalem banget, sangat menjunjung kebersamaan, kedamaian cinta dan ksih sayang, so romantic life.

Dibalik segala ritual peribadatan dari peradaban yang mereka miliki intinya adalah menunjukan bahwa secara universal manusia pada dasarnya punya fithrah dan naluri yang sama karena memang Alloh sudah menganugerahkannya pada setiap manusia yaitu  naluri memper-Tuhankan (mensucikan/memuja) sesuatu, naluri seksual untuk melestarikan keturunan dan naluri mempertahankan diri (eksistensi diri), ya itu pasti semua manusia memilikinya meski kemudian diejawantahkan dalam berbagai bentuk keyakinan, pola hidup atau peribadatan yang disesuaikan sesuai dengan pemahaman dan kebudayaan masing-masing.

Setelah nonton Apocalypto, terbersit juga dalam pikiranku apa mungkin ada kebudayaan yang begitu dangkal, dimana manusia dijadikan pengorbanan (sacrifice) dengan begitu mudahnya, kemanakah hati nurani itu, mungkin wajar karena itulah keyakinan mereka yang diturunkan secara turun temurun, kita merasa aneh karena kita menganggap itu tidak sesuai dengan budaya kita.

Tapi menurutku Apocalypto sangat menghibur (memacu adrenalin dan sampai membuat menangis juga nih) dan persepsi apapun dikembalikan jg pada pemahaman penonton, akupun hanya beropini sebagai orang awam yang memang suka nonton to. :)  just watch it ok!!!!








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.