Ilmu adalah…

5 02 2011

Ilmu adalah gunung,  tidak bisa dinaiki kecuali oleh langkah pemikiran

Ilmu adalah langit, tidak bisa dinaiki kecuali oleh tangga kefahaman

Ilmu adalah bintang, tidak bisa disentuh kecuali dengan tangan kesungguhan

Ilmu itu tidak layak kecuali untuk ditanam, tidak ditanam kecuali di dalam jiwa dan tidak disirami kecuali dengan belajar.

Ilmu adalah tujuan yang jauh, tidak diburu dengan panah, tidak dilihat dalam tidur, tidak diwarisi dari para zaman, bisa diraih dengan membiasakan begadang, banyak mengkaji, menyibukkan pemikiran, terus menerus berkelana dan menerjang bahaya

~Ibnu Qoyyim Al Jauziyah~





Tentang Membuat Puisi

19 08 2010

Di sela rehat kerjaan di siang hari kemarin yang lumayan adem (sangat mendukung bagi raga-raga yang kehausan di ramadan) bercakap-cakap dengan salah seorang rekan, kita bicara tentang puisi dan pernak-perniknya.  Nyambung kalau bicara soal sastra karena sahabatku ini memang kuliahnya juga di jurusan sastra indonesia jadi akhirnya suka nanya-nanya juga tentang sastra, bahkan ada beberapa musikalisasi puisi-puisi macam SDD (Sapardi Djoko Damono), Rendra dan yang lainnya yang berhasil aku catut dari file mp3 nya. *trims siez*

Yap, terkadang mendengarkan musikalisasi puisi itu membuat pikiran bisa terhanyut dan terkagum-kagum  dengan si pembuat kata, meski tentu tiada yang dapat melebihi keindahan ayat-ayat Allah Al Quran nan suci, hanya saja buatku terkendala bahasa, hanya memahami bahwa itu indah apalagi jika dibawakan dengan tartil sungguh bisa mempengaruhi perasaan. Hmm.apakah ini artinya bahasa hati dan jiwa  bisa lebih merasakan alunan yang menyentuh,  yang membuat kita bisa merasa lebih dekat dengan Sang Khalik..Semoga.

Balik lagi bicara soal puisi, bukan soal mudah untuk membuat kata-kata indah nan bermakna terangkai, paling tidak itu yang sebagian banyak orang katakan, namun ada satu pengalaman yang mungkin nyaris sama, biasanya saat kita punya pengalaman akan suatu hal baik itu sedih atau senang akan lebih mudah dituangkan baik itu dalam bentuk tulisan biasa atau puisi, rasanya saat menuliskannya mengalir begitu saja, mungkin karena inspirasinya berasal dari pengalaman sendiri, dari yang sedang dirasakan,  jadi kesimpulannya adalah ide apapun yang muncul di benak kita akan lebih mudah dituangkan dalam sebuah bentuk puisi atau tulisan jika berdasarkan pengalaman baik itu pengalaman orang lain atau situasi dan kondisi yang sedang kita alami.

Rasanya benar, saat kita ingin menulis namanya inspirasi itu harus ada, akan selalu ada alasan saat kita ingin menyampaikan sesuatu, jadi kondisi block writer mungkin saja terjadi bahkan pada penulis-penulis yang sudah mapan sekalipun, there is must be something beyond the writing. Puisi, salah satu seni menulis yang ku suka, meski membaca karya-karya penulis besar kadang tak sepenuhnya dapat difahami tapi ada keni’matan tersendiri saat membaca karya-karyanya. Mencoba menyelami ada apa di balik itu dan amanat apa yang ingin disampaikan di dalamnya.

Ah siez, dikaupun benar, menulis adalah hal menyenangkan (selain musik bagiku), berpuisi membuat kita bisa bercengkerama dengan hening dan hati kita yang berkecamuk dengan berbagai pikiran kata dan makna yang kadang hanya kita ingin mengerti sendiri, Yap menulis puisi adalah bentuk ekspresi yang memberi kelegaan tersendiri tanpa harus peduli akan dimengerti atau tidak..

Tulislah apa yang ingin kau tulis..dan trust me..its fun..

Bagaimana denganmu?





Tentang "Nomor Rahasia"

31 05 2009

Dengan terlebih dulu ku timbang-timbang penyeranta warna hitam gelap dengan tutsnya yang sudah terlihat mulai mengelupas milikku, pikiranku mengatakan antara ya dan tidak untuk menghubungimu, tentu dengan ingatanku yang terlatih mengingat hal-hal kecil bahkan agak rumit, nomormu tak kulupa, tak perlu ku menyimpannya di manapun bahkan di data yang bisa ku encrypt sekalipun, ya cukup disini aja di otakku meski entah di celah neuron bagian mana, namun nomormu tentu saja aman disana, tak perlu susah payah memakai password, selama aku merasa masih memerlukanmu, hatiku akan memaksa ingatanku untuk tetap menyimpan nomor rahasia itu baik-baik. Ah sempurna pikirku, memang tak ada yang lebih berat dari menyimpan rahasia, tapi aku memang suka melakukannya karena terkadang aku butuh adrenalinku terpacu dengan jantung yang berdebar berdetak cepat menciptakan sensasi luar biasa, ada harapan dalam kecemasan dan ketakutan, seperti seorang assasin yang sedang memburu mangsanya untuk menunggu momen tepat melakukan pembunuhan yang berseni dan berkarakter, ah pembunuhan tetap saja pembunuhan apakah berseni atau tidak diujungnya hanya akan ada jasad yang kaku tak bernyawa bukan?

Pasti kalian heran mengapa soal nomor penyeranta menjadi begitu hiperbolis dan misterius kelihatannya, ya karena kau tahu ini nomor rahasia, tentu saja hanya buatku, ya nomor penyeranta yang ada di otaku adalah rahasia yang paling rumit yang kumiliki saat ini, nomor yang membuatku berpikir beribu kali saat ingin menghubunginya hanya untuk mendengarkan suara renyahnya dibalik penyeranta pemilik nomor itu.

Kau tahu, ini hanya bukan hanya persoalan nomor semata, di balik itu begitu banyak rahasia-rahasia lain yang terpendam, baik…baik..pasti kalian penasaran kan? Ingin mengetahui apa dan siapa di balik nomor penyeranta rahasia itu, ya kau mestinya tahu seperti yang kukatakan ini bukan hanya deretan angka-angka duabelas digit, yang begitu acak namun sangat cantik karena begitu mudah mengingatnya dan yang paling menggusarkan adalah aku tak mudahpun untuk tak mengingat si pemilik nomor rahasia ini.

Nomor rahasia ini adalah nomor yang telah mengubah hidupku, bukan hanya sedikit tapi hampir di keseluruhannya terutama setahun terakhir ini. Nomor ini tak susah payah kudapatkan karena dengan sukarela si pemiliknya membaginya untukku dan dengan sorot matanya yang tajam dengan suara yang lembut dan penih kebijaksanaan “Hubungi aku, kau tak perlu khawatir, aku akan selalu ada untukmu” ..

Lihat!!! begitu menjanjikan bukan kata-kata yang terucap, meski terdengar sangat tak lazim diawalnya untukku namun pada perjalannya itu menjadi sesuatu yang sangat terbiasa, aku mempercayai penuh itu dan bahkan meyakininya dan kemudian aku melakukan apa-apa yang sesuai dengan pernyataan itu, kalian tahu? Itu artinya aku telah meluapkan nyaris rahasiaku jadi miliknya, yang ternyata akhirnya kusesali kalau itu salah, satu kekhilafan dan kesalahan terbesar dalam hidupku, ke tak laziman yang kurasakkan kini.

Sungguh, saat itu aku memang payah sekali, seolah tak mampu membedakan setiap warna, apa aku sudah buta? Ah tidak jangan pernah menyalahkan itu, sejatinya memang aku sudah gila, aku gila akan nomor rahasia itu dan kini nomor itupun tentu masih saja menempel di otaku tak bisa jua kulenyapkan barang sejenak dari jenak-jenak sebelum mataku terpejam dipembaringan.

Kau tahu nomor rahasia itu sekarang begitu menjajah, mencabik-cabik perasaan terdalamku, terkadang aku menyalahkannya tapi sepertinya itu bukan tindakan tepat, jadi yang salah? Tentu bukan nomor itu, pemilik nomor itu tapi diriku sendiri yang membiarkan nomor itu tetap tersimpan di otakku. Ingin rasanya kuhipnotis diriku sendiri untuk melupakan sejenak semua bayangan atas tindakan-tindakan sebagai akibat saat kumiliki nomor itu

Kukira dulu pemilik nomor ini begitu sempurna, kukira dia sudah pantas mengisi kekosongan jiwa yang kurasa, sepertinya hatiku memang terlalu naif dan rapuh saat itu, (lagi) pembelaan diri yang tak ingin terbantahkan (mungkin hanya pelipur lara agar tak tak merasa begitu berdosa). Namun cinta memang menunjukkan jalannya dengan hal yang tak terduga, cinta memberi liku-liku jalan terjal dan rumit untuk membuat kita memahami apa yang diinginkan dan ditunjukkan cinta.

Hey jangan kau kira perasaanku berubah terhadap pemilik nomor itu, maksudnya adalah aku hanya menginginkan kebaikan semata, disini jelas rasa sayang yang sudah ada memang karunia yang tak ada duanya, semata-mata didasarkan atas ketulusan dan sesuatu yang tak bersyarat, hingga tak ada tempat untuk kecewa meski aku sering dilabeli layaknya seorang hakim yang bertugas memberikan vonis.

Hah..kumohon jangan lakukan itu..hanya akan membuat seseorang menitikkan airmata diam-diam di keremangan sudut peraduan bukan karena kekecewaan tapi keheranan yang amat sangat.

Kini nomor itu tak lagi rahasia bahkan tak pantas juga jadi rahasia, waktu telah berlalu hiduplah dengan penuh kesantunan tak mencari celah yang membuat aku, pemilik nomor rahasia atau siapa saja seperti berkubang dalam lumpur dosa karena itu adalah belenggu dan penjajahan tak terkira terhadap jiwa pemiliknya.

Apa? ….Katakan sekali lagi?..kenapa?

Hey, Ini sama sekali tak menunjukkan kerahasiaan pemilik nomor rahasia itu kawan?

Tentuaku tahu, maaf sekali karena jika kukatakan, maka bukan lagi suatu rahasia bukan?, biarkan saja tetap jadi misteri dan rahasia yang tersimpan rapih di kotak pandora waktu, terbiar hingga ku yakin saat ku siap membuka kotak itu hanya akan kutemukan kepingan kebaikan yang memberi hikmah dalam sejarah hidupku, menjadi lentera penyejuk membuat ku tahu bahwa Tuhan tak lagi menghukumku dengan kehampaan.

Amin.

*Trims buat Stephen Hillenberg krn postingan ini terinspirasi dari serial si naif namun jujur SpongeBob tentang kotak rahasianya Si Dungu yang apa adanya,  merah muda Bintang Laut Patrick*

I love all of you guys :D





Tentang Setia

20 05 2009

*diiringi Bukan Cinta Biasa-nya Afgan*

Setia bagiku adalah tetap bersikukuh dengan yang diyakini terutama prinsip meski ada saat-saat seperti tergoyahkan jika terbantahkan dengan sesuatu yang logis dan mampu diterima nalar, bahkan tentang persahabatan, setia adalah tuntutan untuk memegang kepercayaan yang diberikan.

Dulu dalam soal cinta, aku mengira setia adalah harga mati, hampir tak kutemukan alasan untuk memaafkan jika seandainya kesetiaanku dkhianati, namun dalam proses menjalani semua ini,   kesetiaan macam ini sangatlah langka bukan?

Menurutmu apakah disebut setia  jika seseorang yang sudah berikrar menikah tapi tak dinyana di pikiran salah satu pasangannya masih menyimpan cinta untuk orang lain (bahkan hanya sekedar menyimpan diam-diam misalnya).

Apa juga kesetiaan jika sering disakiti namun masih tetap bertahan? Aneh sekali kedengarannya.

Akhirnya terbetiklah satu simpulan kesetiaan kini boleh jadi lebih identik sebagai proses bertahan dari kehancuran, ya berusaha bertahan meski adakalanya timbul kebencian sesaat, ketidakpercayaan, saling menyakiti,  amarah, atau bahkan saat-saat dimana bertemu seseorang yang aku rasa lebih pantas menjadi teman hidupku, padahal…

At least  itulah kesetiaan dalam pikiranku saat ini. Hey menurutmu,  Itukah setia karena cinta atau merasa terikat dengan kata setia itu sendiri karena takut dikatakan tak setia.

Mungkin karena itulah Tuan, aku menyebutmu setia karena kau bertahan dengan ikrarmu meski kau terkesan tak mendapat seperti harapmu dan pada akhirnya itu adalah bukti rasa setiamu dan mungkin setiaku.

Setia, tak ada gradasi pasti untuk mengukurnya meski untuk banyak kasus aku sering tak mengerti mengapa ada yang setia  tanpa melihat yang disetiakan justru sering berbuat keliru.

Apakah rasa setia juga bisa buta seperti cinta?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.