Sambil nungguin dosen yang telat mulu , gw membuka percakapan dengan seorang teman, lupa gimana awalnya tiba-tiba kita para perempuan yang masih keliatan imut sudah mature dan manis-manis ini mengobrol tentang poligami, he..he.. sepertinya bahasan yang selalu menarik sepanjang masa ya, ribet aja keknya klo ngomongin ini padahal simple aja cuma gw yakin hati perempuan manapun emang ga bisa dibikin sederhana jika ngadepin masalah kek ginian.
Hwaaaaaaaa… kebayang aja klo pasangan kita berniat poligami, pastinya berasa dunia runtuh kali ya, kiamat bow dan duh terhina dina, dilukai harga diri, dan bla…bla..bla..bermacam ribu alasan terkemuka ke permukaan. Hey itulah situasi psikologis yang akan banyak dialami para perempuan di jaman sekarang dimana cinta erotis, atau slogan dia hanya miliku, aku hanya miliknya seorang bak perjanjian suci yang tidak tertulis.
Hey tapi dari beberapa komunitas para perempuan yang gw “gauli” ada juga “pengecualian” terkesan di luar pakem, gimana tidak, ada seorang istri malah memohon sama suaminya untuk menjadikan sahabatnya sebagai calon istri berikutnya, dan dia juga malah memohon kepada sahabatnya supaya mau jadi istri kedua suaminya.
Hah..hah tau tidak pertanyaan di kepala gw adalah “Ada apakah di otak perempuan jenis itu atau terbuat dari apakah hati perempuan itu” . Haiyah tentu itu pertanyaan gw yang konyol sekalih, salute!! plus subhanalloh itu kata pertama yang terucap, hahaha… pada saat kebanyakan orang memandang cinta begitu ribet ada jenis perempuan yang “legowo” begitu rupa.
Oh ya, tentang obrolan gw ma temen gw itu, nurut pandangan doski (berasa jd remaja tahun 90-an) its okay poligami, memang ma Alloh sudah dibolehkan kok, kita para perempuan akan konyol aja klo cape-cape menentang aturan itu apalagi ingin menghilangkannya, itu aturan sudah fitrah adanya, ya tapi laki-laki yang baik pasti rasional dalam mengukur dan memandang segala sesuatunya.
See!!! ini dia kuncinya, apakah para lelaki itu sudah mampu menentramkan biduk yang mereka punya sebelum hendak membuat biduk baru, begitu timpal gw, yah lelaki seperti apa dulu yang layak dan punya kapasitas untuk poligami, gw rasa para perempuan tak akan terlalu ribet menyikapinya.
Klo udahmah ga sholeh, miskin pula, atau meskipun kaya tapi otak kriminil mo poligami, plis deh …plis..plis….plis
Tapi gw kira, klo memandang soal ini dihubungkan dengan sikon yang dihadapi, for ex, jika seandainya kita dihadapkan saat jaman Rasulululloh dengan banyaknya perang untuk menegakkan Islam, kemudian banyak para suami gugur sebagai syuhada, apa para perempuan akan tega membiarkan saudarinya terbiar sebagai janda, itulah maka mereka saling tolong menolong dengan sukarela membiarkan para suami mereka menikahinya dengan tujuan baik. dan karena itu pulalah generasi islam juga berkembang dengan pesat dan dijaman itu tentu itu bukan suatu yang aneh, luar biasa, menyakitkan atau apalah stereotip buruk tentang pelaksanaan poligami yang melekat di jaman kini.
Ah sudahlah, memang klo ga suka sate kambing ya ga maksa, tapi ga perlu mempengaruhi orang untuk ikut-ikutan ga suka, ya kan?
“Oh ya Mba, jadi gimana nurut Mba klo misalnya suami Mba berkeinginan poligami?”
Doski tersenyum sejenak namun kemudian menyeringai, gigi geliginya yang putih kecil-kecil mendadak meruncing dan taringnya tiba-tiba keluar, dan setelah itu suara petir terdengar menggelegar diiringi keadaan ruangan kelas yang mendadak senyap dan gelap…Tiba..tiba…. Baca entri selengkapnya »
Your Words