Love Kids

6 09 2008

Ngikutin seminar tentang psikologi perkembangan dan pendidikan anak dengan narasumber yang kocak dan simpatik dan bener-bener expert membuat gw takjub plus riang gembiara gimana engga, dia kasih materi yang superberat dengan gaya yang ringan dan kocak dan yang paling menggelikan saat ada sesi senam otak duh sumpah gw tulalit mungkin karena perut kosong juga kali yak jadinya malah-malah habis pake katawa-ketawa. *ngeles mode ON*

Ngemeng-ngemeng soal mendidik anak ternyata banyak trik yang sebenarnya sederhana untuk mengendalikan dan membuat batasan-batasan pada mereka terutama yang masih usia prasekolah cuma kebanyakn adalah justru orangtua terkadang tak sadar  memaksakan pola pikir mereka kepada anak and secara ga sadar pikiran anak dianggap identik dengan pola pikir orang tua, sehingga yang ada kebanyakan miskom tuh.

Misal ada contoh sederhana tentang pertanyaan anak kepada ibunya: Baca entri selengkapnya »





10 Hal Paling Nakutin Dalam Mengasuh Anak

10 05 2008

Zaman sekarang jadi orang tua tuh kayaknya lebih berat ya, secara anak2 sekarang juga makin pinter2 so orang tua mesti berhati2 dalam mendidik dan mengasuh anak, kalau soal tujuannya semua pasti sama, maunya punya anak yang baik, salih wah pokoknya yang baik2 deh cuma kadang kepentok soal cara kalau soal keras atau lembut itu cuma soal gaya jadi bukan suatu masalah.

So menjadi orang tua itu adalah pekerjaan terbaik sekaligus mengerikan. saat si kecil mulai hadir berarti tambah tugas dan tanggung jawab hingga orangtua mulai menjalani siklus yang terdiri dari mengawasi, cemas, dan terbangun dengan rasa takut.

Berikut 10 hal paling menakutkan tentang menjadi ibu atau ayah: Baca entri selengkapnya »





Ibu Yang Egois

8 05 2008

Ini obrolan remeh temeh tak disengaja dengan sahabat sejatiku, rasanya aku juga pernah denger atau baca tapi lupa entah dimana, jadi kalau ada pemilik cerita ini boleh konfirmasi ya.

Here it is, check it out :) Baca entri selengkapnya »





Pentingnya Peran Ibu

7 05 2008

Menjadi Ibu Rumah Tangga atau Ibu untuk anak2nya sering dianggap profesi yang remeh temeh oleh kebanyakan orang, anggapan ibu rumah tangga yang hanya bergelut dengan “dapur” dan “kasur” kadang membuat sebagian Ibu rumah tangga ini seringkali berasa minder jika ditanya mengenai pekerjaan dengan mengatakan “akh saya cuma Ibu rumah tangga”.

Apalagi jika latar Ibu Rumah tangga tersebut seorang yang berpendidikan tinggi, dan dianggap punya potensi untuk berkarir sehingga kemudian banyak komentar kepada wanita yang memilih mengabdikan hidupnya untuk keluarga ini dengan komentar yang menyayangkan misalnya “Sayang ya sudah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi Ibu rumah tangga”

Tentu ungkapan diatas bukan berarti menafikan atau merendahkan wanita yang berkarir yang sekaligus sebagai Ibu Rumah tangga,  kedua pilihan itu tak salah karena yang terpenting dalam berkarir atau berumahtangga intinya adalah bagaimana kemudian berperan menjadi seorang istri dan Ibu yang baik bagi anak-anak.

Bukankah ada ungkapan bahwa dibalik kesuksesan seorang  laki-laki adalah tergantung siapa wanita dibelakangnya, ya wanita itu, bisa jadi Ibu bagi seorang anak atau istri bagi seorang suami.

Yang dititikberatkan dalam pembicaraan ini adalah bagaimana pentingnya peran seorang Ibu dalam keluarga. tak diragukan bahwa peran ibu dalam keluarga adalah sangat penting. Bahkan, dapat dikatakan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan keluarga sangat ditentukan oleh peran seorang ibu.  Jika ibu adalah seorang wanita yang baik, akan baiklah kondisi keluarga. Sebaliknya, apabila ibu adalah wanita yang bersikap buruk, hancurlah keluarga (Prof. Sa’ad Karim, 2006).

Ibu adalah madrasah pertama untuk anak2nya, tempat dimana anak mendapat asuhan dan diberi pendidikan pertama bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Seorang Ibu secara sadar atau tak sadar telah memberi pendidikan kepada sang janin, karena menurut penelitian bahwa bayi dalam kandungan sudah bisa mendengar bahkan ikut merasakan suasana hati sang Ibunda, maka tak heran jika ikatan emosional seorang Ibu dan anak tampak lebih dibanding dengan seorang ayah.

Jika seorang Ibu dapat memahami dan mau melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, dengan segala tuntunan dan teladan pada anak. Insya Alloh akan terlahirlah generasi yang salih, unggul dan mumpuni, mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kehidupannya kelak.

Namun realitasnya banyak ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Mungkin ada sebagian yang terlalu sibuk dengan kariernya hingga terkadang seperti menyerahkan tanggung jawab terbesar dalam pendidikan kepada pihak sekolah atau anak2 yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuh yang bisa jadi “kurang berkualitas”. Atau mungkin ada yang merasa menyerah dan putus asa dalam mendidik anak karena kurang pengetahuan sehingga bingung tidak mengerti dengan apa yang harus dilakukan.

Jika kondisi ini terus berlanjut maka pendidikan dan perkembangan jiwa anak yang kurang mendapatkan  pengasuhan yang baik dari seorang Ibu akan terabaikan sehingga  kepribadian anak yang baik tidak tercapai. Biasanya perilaku anak ini menjadi buruk baik di keluarga maupun masyarakat dan kalau sudah begini tentu bukan sepenuhnya salah si anak.

Banyaknya kasus2 bunuh diri akibat kekerasan orangtua pada anak, menandakan bahwa anak merasa tak aman dan nyaman di lingkungan keluarganya, kondisi seperti ini tentu saja bukan situasi yang kondusif untuk memberikan pendidikan yang baik buat anak karena orang tua malah tidak bisa menjadi teladan yang baik buat mereka.

Jadi hal pertama yang harus diciptakan oleh keluarga terutama oleh seorang Ibu adalah menciptakan sikon yang kondusif  sehingga kendala dalam mendidik anak, mengarahkan mereka terhadap ajaran agama, menciptakan kepribadian yang salih akan lebih mudah, karena ada saling percaya dan ikatan kasih sayang yang kuat antara Ibu dan anak, dari seluruh pihak keluarga.

Alloh SWT berfirman,

“Dan hendaklah takut kepada Alloh SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (an-Nisa:9).

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk segera memulai mendidik anak dengan cara yang disyariatakan dalam agama  secara sungguh2 dan penuh kesabaran.  Jika tidak maka akan menjadi orangtua (ibu) yang paling merugi, yaitu ibu yang sedang menunggu waktu datangnya kesulitan yang bertubi-tubi. Karena memiliki anak durhaka dan boleh jadi sering merugikan banyak pihak, baik dirinya sendiri, orangtua juga orang lain. astagfirulah.

Note: Masya alloh betapa berat ya tanggung jawab seorang Ibu, ya Rabb semoga aku bisa menjadi Ummu yang baik. Amin. tapi ada satu pertanyaan gw adalah bagaimana jika seorang istri tidak nyaman dengan perilaku suami , apakah dengan kondisi ini akan maksimal untuk mendidik anak2 ya tentu saja pada faktanya tanggung jawab mendidik bukan sepenuhnya ditangan Ibu tapi dominan kan memang di tangan Ibu. Thx for sharing here :)
 





Taman Yang Paling Indah

16 04 2008

Taman yang paling indah, hanya taman kami…….Taman yang palin indah ..taman kanak-kanak …..

Itu sedikit cuplikan lagu anak-anak yang populer dan pastinya banyak dinyanyikan anak-anak usia pra sekolah, he..he.. merhatiin anak-anak dan bocah-bocah lucu nan menggemaskan di Taman Kanak-kanak rasanya ga bosen-bosen dan ujung bibir gw ga turun-turun alias tersenyum terus bahkan kadang tertawa, abisnya lucu banget segala tingkah polos mereka bahkan pertengkaran-pertengkaran antar anak-anak ini bener-bener lucu bikin dunia serasa tanpa derita :)

Bener banget kalau taman kanak-kanak adalah dunia yang pling indah ya dunia anak-anak adalah dunia dengan penuh kepolosan dan kejujuran, jarang kan ada anak kecil yang bisa boong, trus jika mereka ada konflik dengan temen sebayanya biasanya ga lama, bisa cepet akur lagi tanpa ada istilah menyimpan rasa dendam. Ga seperti kebanyakan orang dewasa yang meskipun akalnya sudah sempurna sudah jalan tapi malah sering bertindak diluar logika dan lebih mengedepankan perasaan atau emosi destruktif.

Ah andaikan ku bisa kembali ke masa kanak-kanak, tapi secara ga mungkin ya :)

Yang terjadi pada umumnya adalah orang tua secara tak sadar memperlakukan anak-anak dari cara pandang mereka sebagai orang dewasa dan menginginkan anak-anak berpikir layaknya orang dewasa padahal pastinya anak2 hanya akan hanya berpikir dgn pikiran anak-anak dan cara pandang mereka sebagai anak-anak. Mungkin logikanya dibalik saja, apa salahnya jika sebagai orang tua atau orang dewasa dalam memperlakukan atau menerapkan sesuatu hal pada anak-anak coba memposisikan diri sbg anak-anak, masuk dalam pikiran mereka paling tidak berusaha memahami apa yang mereka harapkan dari orang dewasa di sekitarnya, sehingga tak ada misscommunication dengan mereka.

Kadangkala yang dipikiran anak-anak itu sebenarnya berat kita menganggapnya sepele atau sebaliknya yang dipikiran mereka sepele. orang dewasa malah menganggapnya ribet. Ya intinya coba buat mereka aman , nyaman dan betah di rumah tanpa harus dimanjakan dengan materi yang berlebihan.Tapi bisa membuat nyaman pikiran, perasaan dan emosi mereka, bisa jadi itu yang terpenting, dan bisa membuat mereka lebih bahagia.

Love You Kids…… 








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.