Be.. Earth

22 04 2009

earth-day

Oh ya seperti biasa buka gugel, ternyata hari ini adalah peringatan hari bumi ya, menurut situs yang gw baca (berasa kek si Helen di kepompong ga?), pada awalnya, di tahun 1970, peringatan Hari Bumi jatuh pada 21 Maret, dicanangkan oleh Wali Kota San Fransisco atas dorongan warganya bernama John McConnell yang sangat menaruh perhatian kepada Bumi. Akan tetapi, 21 Maret kemudian dinyatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Hari Hutan Dunia. Namun kemudian, PBB juga menyatakan 21 Maret merupakan Hari Bumi, sebagai awal kehidupan lingkungan dan sumber daya alam.

Katanya tanggal 21 Maret memang sangat istimewa, disebut pula vernal equinox, yaitu awal musim semi di belahan bumi utara, dan awal musim gugur untuk belahan bumi selatan, saat siang dan malam di muka bumi ini sama durasinya. Pada hari tersebut, PBB mengajak warga dunia untuk mengakui dan menghormati bahwa bumi itu memiliki sistem keseimbangan yang indah, antara keberadaan tanah, air, hewan, tumbuhan, dan manusia. Harus ada kesadaran bahwa sistem sumber daya alam di bumi ini sangat sensitif, dan akan terjadi bencana bila sistemnya terganggu.

Hari Bumi yang banyak diperingati warga dunia sekarang ini jatuh pada 22 April sejak 1970, sering disebut pula sebagai Hari Bumi kedua, dicanangkan oleh Gaylord Nelson, Senator Amerika Serikat dari Wisconsin. Walaupun asal usul Hari Bumi ini dari warga Amerika Serikat, namun jiwanya telah mendorong gerakan penyelamatan sumber daya alam melalui agenda-agenda politik lingkungan di berbagai negara.

Well, okaylah spiritnya itu yang bisa kita contoh lah, semangat untuk memelihara dan menjaga keseimbangan planet biru ini, pada tahu dong issue lingkungan yang sedang hot-hotnya soal bumi ini apalagi kalau bukan tentang pemanasan global atau perubahan iklim yang sedang kita rasakkan plus dampak-dampaknya berupa bencana alam dan semacamnya, miris siy padahal seandainya manusia mau sedikit berdamai dengan keserakahan jiwanya menjaga keseimbangan bumi dengan menciptakan ekologi dan ekosistem yang seimbang mungkin reaksi alampun ga akan membuat manusia merugi.

Dalam Living Planet Report 2006, misalnya, organisasi konservasi global World Wild Fund for Nature (WWF) menyebutkan bahwa ekosistem alam planet bumi saat ini sedang mengalami degradasi hingga pada kondisi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah manusia. Umat manusia disebut-sebut sedang mendekati tipping pointsebagai point of no return(Schellenhuber,2006).

Degradasi hutan hujan tropis di Kongo,Amazon,dan Indonesia,misalnya, sedang melaju dengan kecepatan tinggi menuju kondisi kehancuran total. Dampaknya bisa fatal terkait ketersediaan air dan pangan.Akibat pemanasan bumi,sekitar 200 juta manusia bakal menjadi pengungsi yang disebabkan banjir dan kekeringan. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan disinyalir bakal melebihi kerugian yang diderita akibat Perang Dunia I dan II plus krisis ekonomi dunia pada 1930 (Observer,31 Oktober 2006).(unisosdem)

Well, tentu masih banyak fakta-fakta, mungkin nanti gw cari tau, tapi yang paling penting, tentu ga ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya, yang paling urgen dan penting adalah adanya political will dan langkah nyata sebagai implementasi atas kepedulian seluruh penduduk dunia, untuk keberlangsungan hidup planet ini.
See..minimal yang paling mudah, yang bisa dilakukan dari anak kecil ampe orang tua, coba deh kita belajar jangan buang sampah jangan sembarangan, sumpah gw paling enek, paling benci prilaku kek gitu, klo sampah otak di buang di blog okaylah ya he..he..

*memposting ini cukup sukses meredam tangisan A Bundo* :D





Caleg Berujung RSJ

15 04 2009

Topik soal pemilu dan pasca Pemilu tanggal 9 april tak ada habis-habisnya untuk dibicarakan, fenomena yang unik adalah ternyata ada beberapa caleg yang kalah berujung di bangsal RSJ.

Ini jadi bahan obrolan menarik, gw pikir kenapa mesti stress siy kalau kalah, memang resikonya gitu, calon legislator banyak sementara kursi yang tersedia sedikit ya wajarlah peluang mendapatkannya juga kecil, jadi sangat mempertanyakan apa siy motif nyaleg sesungguhnya sehingga kekalahan jadi momok yang menakutkan, mungkin terlalu sarkastis kalau dibilang para calon legislator yang kalah akan menghuni rumah sakit jiwa, tapi kenyataannya emang ada, bahkan lucunya beberapa rumah sakit jiwa jauh-jauh hari sudah mempersiapkan bangsal-bangsal baru untuk caleg yang kalah, berasa sebuah dagelan ga siy.

Ya..ya..ya..  kebanyakan para caleg itu, abis-abisan tuh waktu niat nyaleg, seakan berkorban segalanya, harta alias materi, waktu tenaga dan yang jelas di otak mereka di dogmakan bahwa harus dan pasti memang dengan pengorbanan yang sebegitu banyak dan disaat kemenangan itu seperti debu yang diterbangkan angin, yang ada perasaan marah, frustrasi, dan merasa bukan apa-pa lagi, ujungnya ya bisa depresi lebih parahnya lagi gila, panen deh para psikiater.

Kasihan juga siy ya, jadi kepikir bahwa pemilu dengan cara kek gini, mempunyai unsur merusak/destruktif bagi kesehatan jiwa para pelaku yang terlibat didalamnya, pukulan berat karena kekalahan bagi si caleg, keluarga bahkan para pendukung-pendukungnya, kalau pemikiran gw, uang segitu banyak yang dipakai buat hajatan nyaleg kenapa ga dipakai untuk sesuatu yang lebih produktif dan menghasilkan atau jadi tabungan di akhirat dengan diinfaqan, Insya Alloh lebih bermanfaat kan?.

Tau ga, nurut obrolan kami, nyaleg itu kek sebuah lowongan kerja kali ya, kebanyakan berharap kalau dapet kursi maka kehidupan akan berubah drastis, dalam beberapa tahun akan punya rumah mewah, tanah luas kendaraan dan iming-iming materi yang berkecukupan, ya pokonya investasi lah (ya ga semua sepicik itu mungkin), afwan siy klo gw suudzon tapi logikanya gini aja deh, secara saat nyaleg sebegitu habis-habisan, klo ga terlalu kaya bisa utang sana-sini, dan jika dapet kursi apa siy yang pertama terlintas dalam pikiran ya pastinya cari ganti untuk modal yang sudah dikeluarkan, ya kan? Visi misi yang idealis yang diumbar saat kampanye sudah dilupakan entah kemana, mungkin tersembunyi di alam bawah sadarnya.

Jika dipikir lebih jauh ya itu tadi, kenyataan di lapangan mengukuhkan sebutan pemilu yang mengorbankan kesehatan jiwa warga bangsa, coz kenyataannya adalah Pertama, pemilu memberi inspirasi bagi warga untuk mencari kekayaan dari kedudukan sebagai legislator. Kedua, pemilu mengharuskan calon legislator mengeluarkan banyak uang pribadi. Hal ini mengkondisikan calon legislator yang memenangi kursi legislator mencari uang pengganti sebanyak mungkin dari jabatan legislator yang diraihnya. Ketiga, pemilu membuka kemungkinan praktik politik uang yang mewakili perbuatan tidak dewasa dan tidak sehat secara mental. Keempat, kampanye dalam rangka pemilu dapat menjadi ajang peluapan aneka dorongan kekerasan primitif warga. Kelima, kampanye menggiring warga memilih dengan pertimbangan amat dangkal, misalnya hanya berdasarkan popularitas tanpa rasionalitas memadai (unisosdem).

Pemilu telanjur dibanggakan sebagai atribut bangsa dan negara Indonesia yang demokratis. Indonesia sangat terbuai dengan pujian barat yang menganggap Indonesia adalah negara paling demokratis, sangat memberikan ruang yang luas bagi kebebasan penduduknya untuk ber”suara” padahal itu tak lebih pujian yang mengandung perangkap yang membuai seolah-olah itu sesuatu yang benar dan prestasi yang sangat tinggi, padahal nyatanya sistem yang dipakai dan orang-orang Indonesia itu “sakit”. Pemilu sebagai pesta demokrasi telah menyita waktu, tenaga, perhatian, dan dana. Rasanya segala pengorbanan itu malah ironis dengan akibat yang ditimbulkan pada bangsa ini.

Caleg? Ah klo ngasal daftar, ngasal nyalon, ngasal absen mungkin keputusaan yang akan dihasilkan juga, ngasal memutuskan, ngasal ada, apa mungkin ada mekanisme seleksi dengan standar jelas ya laiknya fit and propher untuk menjadi caleg.

Pertanyaan selanjutnya, standar apa yang ideal untuk mengatakan seseorang itu laik jadi legislator, jadi orang nomor satu untuk negeri ini, sementara faktanya demokrasi justru malah menciptakan orang-orang yang oportunis dan yang sejenis nis..nis…

So..one question that blowing in mind?

Apakah pemilu kali ini dengan sistem demokrasi yang sudah lama diadopsi pada kenyataannya bisa melakukan perubahan?

Demokrasi Pak, Bu, Om, tante, ?

Ah tidak terimaksih, sudah kenyang he..he..

*senyum paling imut* ;)