Alkisah:
Seorang wanita Suku Azdi dari Desa Ghamid menghadap Rasulullah SAW. Ia-sebut saja namanya Ghamidiyah.
“Ya Rasulullah, sesungguhnya saya telah berzina, maka sucikanlah saya, ” akunya dengan suara yang penuh harap. Suara yang menyiratkan penyesalan yang amat sangat atas kekhilafannya. Rasulullah menolaknya dan memerintahkan wanita itu agar pulang, meminta ampun seraya bertobat kepada Allah SWT. Tapi, ajaib, keesokan harinya ia datang lagi. Kali ini begitu jelas terlihat keseriusan di wajahnya. Ia ingin menunjukkan kesungguhan dan kebenaran ucapannya.
“Ya Rasulullah, mengapa engkau menolakku seperti engkau menolak Ma’iz. Demi Allah, saya telah hamil!”
“Engkau sendiri yang berbuat?” Rasulullah bertanya untuk memastikan kebenaran ucapan itu sekali lagi.
“Benar, ya Rasulullah. Karena itu, sucikanlah saya ….,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak! Pergilah hingga kamu melahirkan!”
Hari telah lama berganti. Daun-daun kurma pun sudah beberapa kali berganti. Angin pun sudah beberapa kali mengembara membawa awan berkeliling. Tak terasa waktu telah berlari cepat, mengubah alam.
Wanita dari Desa Ghamid, yang selama ini ditampung salah satu keluarga Anshar, telah melahirkan bayinya. Ia datang lagi kepada Rasulullah SAW. Anaknya ia bungkus dengan kain.
“Ya, Rasulullah, sekarang saya telah melahirkan. Ini bayi itu. Karena itu, laksanakanlah hukum Allah atas saya …,” pintanya menagih keputusan Rasulullah SAW. Kepasrahan tersirat dari warna suaranya. Ketenangan hati karena tobat terpancar dari sinar bening matanya yang selalu aliri air mata penyesalan. Ia begitu siap menerima ketentuan Allah SWT.
“Pergilah! Dan susui anakmu hingga kamu menyapihnya.” Rasulullah SAW menolak sekali lagi. Ghamidiyah pun pergi.
Hampir dua tahun ia memenuhi perintah Rasulullah SAW. Sampai bayinya telah ia sapih, wanita dengan jiwa baru ini kembali menghadap Rasulullah SAW. Ia datang bersama anaknya yang sedang memegang sepotong roti.
“Inilah, ya Nabi Allah, bayi itu. Saya telah menyapihnya dan ia telah dapat makan sendiri.”
Melihat itu, Rasulullah SAW mengambil sang anak dan menyerahkan kepada salah seorang sahabat. Rasulullah SAW segera memerintahkan pelaksanaan hukuman rajam bagi wanita itu. Lubang pun digali. Wanita yang mengharapkan kesucian dari Allah dan Rasul-Nya itu dibenamkan ke dalam lubang tadi hingga sebatas dada. Hukuman rajam pun dilakukan. Batu-batu pun berhamburan mengenai tubuh wanita yang memasrahkan dirinya pada ketentuan Allah dengan ikhlas itu. Satu, dua, ….entah sudah batu yang keberapa tubuh itu menerima dengan ikhlas. Batu-batu yang menghapus dosa-dosanya. Batu-batu yang membuka tobat baginya dari Allah SWT. Walau begitu, tidak ada satupun batu yang mengenai wajahnya karena Rasulullah SAW melarang hal itu terjadi.
Suatu ketika Khalid bin Walid memukulkan sebuah batu ke tubuh yang memiliki jiwa yang tenang itu, darah pun memercik mengenai wajah Khalid. Khalid mencacinya sampai cacian itu didengar Rasulullah SAW. Maka berkata Rasulullah SAW, “Hati-hati wahai Khalid. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ia telah bertobat dengan tobat dengan tobat yang seandainya dilakukan oleh orang yang menggelapkan uang negara niscaya akan diampuni dosanya.
Demikianlah pembelaan Rasulullah SAW kepada Ghamidiyah atas cacian Khalid. Sungguh, Rasulullah SAW lebih mengetahui bahwa tobat yang dilakukan Ghamidiyah itu jika dibagikan kepada tujuh puluh orang pastilah cukup bagi mereka. Manakah lagi tobat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah SWT secara ikhlas? Itulah tobat Melati dari Desa Ghamid!
Akhirnya, mayat yang telah mencapai penyucian jiwa itu, diurus, dishalatkan, dan dimakamkan
Hmm, bisa bayangin ga sie bagaimana kedalaman dan kesungguhan taubatan nasuha-nya perempuan Ghamidiyah itu, apalagi di saat Rasulululloh masih ada, ya kan?. Ya selang waktu mulai dia minta dihukum kepada Rasul (untuk menebus dosa) hingga menyapih persusuan anaknya itu pastinya diisi dengana taubatan yang mungkin ga akan ada bandingannya dengan siapapun di masa kini.
Wanita Ghamidiyah itupun pastinya melewati bulan ramadhan kan? dan jika langkahnya ingin disurutkan dia tinggal mengatakan di setiap syawal di hari yang Fitri dengan kesungguhan pertobatan yang di lakukan bahwa dia sudah kembali suci seperti bayi yang dilahirkan tanpa dosa dan cela, dan tak perlu meneruskan niatnya menebus dosa zina-nya dengan hukum rajam.
Nah bagaimana ya jika ternyata melewatkan ramadhanpun mungkin hanya selewat tradisi dan taubat untuk dosa-dosa kecilpun terkadang alakadarnya, padahal wanita ghamidiyah itu dengan taubat yang tak tertandingi di saat Rasul masih ada pula mau dengan ikhlas menebus dosa besarnya.
Masih yakinkah kita di titik nol, seperti bayi yang terlahir kembali?
Maunya begitu, Alloh mengampuni dosa-dosa kecil kita dan tentu jika hubungannya dengan sesama makhluk/manusia kita layak meminta maaf dengan tulus, kemudian meminta ampun kepada Alloh, semoga dengan itu benar-benar hati ini bersih dan terbuka menerima kebenaran? Amin.
Mari berhusnudzon kepada Sang Khalik Yang maha Pengampun!!!
*gw setelah hiatus beberapa jelang di pagi yang cerah*
^_^ bismillah…
Sampe nangis bacanya. Bacaan pagi yang luar biasa menyentuh. Senang bisa nemuin dirimu lagi Ney. Tentunya dengan suasana hati yang lebih baik dari kemarin. Cerita diatas, menyisipkan banyak sekali pesan moral. Salah satunya, meskipun kita ingin bertaubat, maka taubatlah dengan cara yang benar. Selesaikanlah hak-hak manusia yang lain. Taubat bukan hanya urusan diri kita dengan Allah, tapi juga urusan kita dengan makhluk secara horizontal.
Gw berharap dan selalu mengharap, agar gw bisa “pulang” dengan tangan sudah bersih dari lumuran dosa. Hati yang bening, tanpa noda-noda dusta, dan amal yang hina. Apakah sisa umur gw masih cukup untuk membersihkan diri gw? Akankah taubat itu diterima? Sungguh manusia perugi bukan main, bila ramadhan kemarin, tidak termasuk hamba-Nya yang diterima taubat-taubatnya. Maha Suci Allah.
Thanks untuk renungan paginya.
Hetrix aaaah….
Horeeeeee Nenyok is back….!!!!
coz i feel iam nothing..but thx for appreciating SENYAWA. Welcome back too brother..Semangat lagi as usual.
——————-
Your hurray memaksa gw untuk sdkt tersipu
Semoga tulisan ini menjadai pencerahan bagi yang mbaca….
selamat anda telah kembali…
———————-
Amin. semoga…Alloh memberkahi pembacanya…
Yess!!! iam back…try to be a better person
saya pernah denger kisah ini…
benarkah seperti itu bunyinya? apakah bukan : jika dibagikan ke seluruh penduduk madinah niscaya akan mencukupi? CMIIW
——————–
makasih dah bagi2 ilmu bro…
—————-
Sama-sama Little brother n you could call me Sist
cerita yang menyentuh. saya merasa begitu banyak dosa saya selama ini..
thanks ya ney untuk pencerahannya
——————–
Welcome Sist…for me too…
^_^ bismillah…
Mau curhat ah…
Kemarin, ada perempuan ngobrol via YM dengan gw. Dia bilang, adeknya udah hilang keperawanannya. Tak lain karena pacarnya. Bukan cuman itu, karena peristiwa itu, dia sekarang sedang mengandung. Di luar bahwa saat ini si perempuan itu sedang menyesali perbuatannya, dan malu bukan kepalang untuk bertemu dengan keluarganya. Yang jelas yang salah tetaplah salah.
Sudah separahkah dunia ini Ney? Ini bukan kali pertamanya gw nerima curhatan seperti itu dari orang-orang yang gw belum kenal banyak sama orang itu. Ini mah sekarang kita berandai-andai aja ya Ney.
Seandainya, si perempuan itu membaca tulisanmu ini. Terus hatinya bergemuruh dahsyat. Kemudian muncul tekad untuk bertaubat sebagaimana cerita itu. Gmn Ney?
——————————–
Hmm……..Sifat dan pola perilaku manusia dari jaman adam sampai akhir jaman ga akan berubah San karena Alloh memberikan naluri dan potensi hidup yang itu-itu juga, yang membedakan hanya dari sisi sarana/prasarana, salah satunya teknologi spt skg.
Case begitu juga gw kira lumrah palagi di jaman sekarang, wong di jaman rasulpun ada kan?
Ya tentu taubat adalah langkah pertama, duh jangan sampai aborsi or semacamnya, itu kan jadi nambah dosa, tentu berani berbuat berani bertanggung jawab, yang jelas perempuan itu harus di dukung dalam arti ditolong oleh keluarganya yang selama ini menjadi walinya bisa orang tuanya atau saudara yang lain, jgn dibiarkan begitu saja, malu? pastinya iya, ya udah risk jg kan katakanlah klo masih punya malu berarti kontrol sosial masyarakat masih jalan kan?
Soal menebus dosa, tahu kan? dalam Islam hukuman or punishment memang mempunyai dua fungsi yaitu menebus dosa pelaku dan menimbulkan efek jera u masyarakat dan itu hanya bisa dilakukan jika aturan Islam memang di tegakkan, atau adakah institusi yang bisa menjadi semacam hakim untuk melakukan hukum cambuk (ini kan pelakunya kan gadis)
Subanalloh ternyata kita perlu Islam itu tegak ya, tak hanya bebas dalam melaksanakan ritual ibadah..karena islam itu memang sudah syumul mengatur seluruh aspek kehidupan
wallahu alam Bro..
Subhanallah, taubat yang sungguh dan iklas karena Allah, cerita ini membuat merinding ney …….., semoga saya menjadi lebih baik keimanannya
———————–
Amin. Sama-sama lah Dy..we are only human gudangnya khilaf dan salah kan?
sist? whaaaaa, af1 jiddan, nda tahu…
tapi mending tak panggil mba aja deh
mba nenyok…? ghaaaaa, ga pas! Mba Ney aja deh…
^
^
^
ralat. Mba Ana aja deh
—————————
As you wish lil bro!! eh btw
anatuh sapa?wew, Ney is back , welcome back girl
wah ceritanya dalam sekali. bahan renungan yang bagus buat saya disaat sehari-harinya saya banyak berkutat dengan rutinitas. ironisnya dijaman seperti sekarang ini hamil sebelum menikah sudah biasa hmmph…..
———————–
*hugz Jingga* Ya itu maalahnya kenapa sesuatu yang seharusnya tak biasa menjadi dianggap biasa ya say
^_^ Beberapa hari gak ketemu, ternyata, sekarang datang dengan tulisan dan tanggapan yang adem. Mantabs…!
—————————
Iya, sudah pasang AC nie di blognya
wah adem banget
——————————-
Wah AC nya kekencengan yak??
bagus bangeeetttt huhuhu… jadi terharu…
————————–
*ikutan terharu juga*
hmmm… menyejukkan sekaligus menakutkan,… karena sudah terlalu banyak yang aku langgar selama ini…
—————————-
Duh klo soal melanggar, aku?? jangan ditanya deh
pernah diceritakan oleh ustadz waktu kuliah dzuhur bulan ramadan. sungguh luar biasa keikhlasan hati wanita itu utk bertaubat. kapan saya bisa bertaubat se ikhlas ini?
————————————
itu juga pertanyaan saya pada diri sendiri
Kisah di atas memperlihatkan..
Profesionalitas..
fokus pada content masalah..
fairness..
dan..KONSISTENSI !!!!!!
very guuuuuut ney
————————————-
—————————–
Satu Frasa yang menyatukkan semua statement lo adalah ” Totally taubatan nasuha”
Walaupun saya non muslim, tapi saya terharu baca kisah ini pagi ini. Sangat menyentuh.
Terima kasih yah sdah berbagi.
Salam,
silly
—————————-
Sama-sama Sill, thx juga atas kunjungannya ya Jeng
Hai mbakk…
posting yang menyentuhhhh hati..
walaupun saya non muslim, tapi tetap sesuatu yang menyentuhh…
——————————
Hai juga Indah, gmn nyetirnya sudah lancar kan? lo kok nanya itu, eniwei thx sudah mampir lagi ya say
Nah… itulah….. kebanyakan juga zaman sekarang, terutama di negeri kita, tradisi lebih dipertahankan dibandingkan nilai ibadah atau nilai sakral Ramadhan/Syawal. Seringkali orang tidak berpuasa, tetapi mudik lebarannya sangat heboh, bahkan sampai korupsi waktu kerja beberapa hari. Belum lagi ditambah ‘kemunafikan’ di sana-sini, di mana maaf-maafan hanya masalah tempel tangan dan kirim SMS dan tobatpun belum tentu di hati, hanya dalam mulut saja.
Yah tidak tahulah, mungkin saya adalah salah satu di antaranya….. (tetapi bukan termasuk yang puasa nggak, mudik lebaran heboh itu loh… huehehe….)
————————–
I believe it, Sir pastinya ga seperti itu, teu kawajahan ceuk urang sunda mah he..he..
terharu.. saya ga bisa berkata apa2 abis baca ceritanya
——————————
tak usah katakan apa-apa klo tak bisa