iam back, the real me is back
alhamdulillah iam feeling better now, sebenarnya it wasnt seriously, biasalah dramatisir mode:ON, ya bentar onkan dulu Joe Satriani…*rock yeah* he..he.. sok banget ya gw, biarain aja ..who care..
Momentum terutama mengenai prinsip kekekalan momentumnya Newton (tapi katanya Galileo yang tahu lebih dulu) adalah pelajaran fisika waktu SMU yang masih nempel selain twin paradoxnya Einstein yang berpangkal dari teori relativitasnya, serta teori atom yang katanya inti atom itu bukanlah proton tapi neutrino yang merupakan pusat atom. Teori-teori tersebut mungkin tak begitu mudah untuk dibuktikan karena tak terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi yang membuat teori ini membekas adalah analogi yang diungkapkan teacher gw waktu itu, misal dalam prinsip kekekalan momentum dikatakan bahwa ”Dalam sistem gerak lurus tanpa gesekan benda akan cenderung bergerak istilahnya sekali bergerak akan terus bergerak kecuali jika ada hambatan” dan dengan bijak si Bapak mengatakan , bahwa teori itu tak ada bedanya dengan gerak diri manusia, hakikatnya manusia juga adalah benda kan, dan biasanya manusiapun yang suka bergerak maka dia akan cenderung terus bergerak dan yang suka diam cenderung terus diam.
Bener juga ya klo dipikir2 ya sederhananya orang yang cenderung mobile mungkin susah untuk diam kecuali jika ada sesuatu yang membuat dia harus diam begitupun sebaliknya. Nah intinya, manusia yang hakikatnya memang benda atau materi tak saklek seperti teori tsb. karena manusia dengan akal pemikirannya menempuh hidupnya dengan penuh dinamika, ada situasi yang membuatnya mesti bergerak atau diam (cooling down) tergantung kondisi dalam hal ini dianalogikan sebagai hambatan/gesekan2 yang dia tempuh dalam hidupnya.
Heuheueu kepala ku kok nyut2an seeh.. biasa fisika memang bikin ribet, nilai tertinggi di rapot gw saat SMU hanya sampe angka 8 dan waktu kuliah lebih ajaib gw dapet D euy, inget banget waktu UAS fisika yang diawasi para asdos cakeep ituuh *flirt mode:ON* di lembar jawaban gw malah gambar pemandangan, sosok2 muka ga jelas, mungkin karena itu kali ya gw dikasih D, alhasil gw bela2in mengorbankan libur semester buat ikutan Semester Pendek biar bisa ngatrol IPK nasakom gw (IPK nilai satu koma) dan alhasil nilai fisika gw jadi B *malu nie ketahuan eks mahasiswi paling aneh* tapi di akhir masa gw menimba ilmu di padepokan zetinenzer pastinya hasilnya memuaskan dong
*show of mode:ON*
Sebenarnya masih pengen lanjut ngomongin philosophy and analogi teori berikutnya tapi sumpah cape nie, lagian yang baca ntar males juga kan klo kepanjangan, besok2 daku akan omongin lagi sekalian sapa tahu ada masukan dari kawan maya.
So inti dari tuliasan ini versi gw adalah karena momentum menunjukan besar tenaga untuk menghentikan benda bergerak, pastinya perlu kekuatan dan usaha yang besar dari pihak yang membenci kaum muslimin (barat and sekutu plus antek2nya) untuk menghentikan gerak kaum muslimin ekstrimis, radikal, fundamentalis, militan yang sedang berjuang menegakkan keyakinannya, dimanapun, kapanpun dalam situasi apapun, dan realitasnya momentum ini tak akan berhenti dilakukan oleh pihak yang merasa utopis plus sinis terhadap tegaknya aturan Illahi. *disambung-sambungin mode:ON*
Mau bukti?? bukankah sekarang sedang ada perburuan besar2an terhadap pihak yang dianggap militan, yang hanya karena prilaku anarkhis segelintir oknum yang notabene terpancing provokasi pihak diluar lingkaran yang bikin skenarionya ituuh, kemudian membuat garda depan ini harus dying young, pdhl pendapat gw pribadi sie mereka masih relevan untuk exist kok, secara yang di swept mereka selama ini adalah t4 maksiat, dan anehnya denger news kemarin salah satu alasan menihilkan mereka karena mereka dianggap mensubstitusi/mengambil alih kewenangan polisi dalam menangani ketidaktentraman dalam masyarakat.
Eh jangan salah, mereka (orang2 garda depan tu) masih mending lho dibandingkan dengan tragedi poso, tragedi muslim bosnia, atau pembantaian muslim palestina oleh Zionis yahudi (yang ga akan henti2nya), ini bukan provokasi ini bicara fakta, nyatanya potret kaum muslimin di tiap belahan dunia itu hampir sama cuma dengan kondisi yang berbeda2 tapi intinya yang terjadi adalah pencitraan, penodaan, dan pemberangusan orisinalitas islam. So selamat datang ke area Ghazwul fikr!!! OOT dikit gpp ya.
Nyambung yang tadi soal polisi yang merasa kewenangannya diambil alih, bermula dari pertanyaan bodoh gw ya, plis yang tahu mohon kasih daku pencerahan. Seandainya kita mau bikin usaha misal usaha perdagangan, atau karena kelebihan duit trus bikin kasino, night club, rumah bordil *whaattt* perlukah izin usaha dari POLRI, nah kalau asumsi ini benar. Bagaimana mungkin dua hal yang sangat paradoks ituuh (melegalkan dgn memberantas kemaksiatan) dilakukan oleh satu insitusi *pusiiing gw*
So, kontrol sosial masyarakat itu mestinya dilakukan dengan cara apa dan bagaimana, seperti apa dan oleh siapa jika para wakil rakyat dan pemerintah ituuh malah lebih suka tidur di ruangan sejuk ber AC ituuh. *lieur nya?? sama*
nah, gitu dong Nenyok , pulih segar kembali & berapi-api ..
manusia & masyarakat pd dasarnya adalah energi dinamis. Jadi hukum fisika bisa dianalogikan dlm dinamika kehidupan. Manusia diberi akal utk mengendalikan energi2 tadi, apakah terpelihara momentum geraknya, apakah berbenturan ataukah synergy.
Sesuatu yang baik, tidak hanya berangkat dari niat baik, tapi juga harus dilakukan dg cara yg baik, terkendali dg baik, barulah menjadi hasil yg baik. Dan itu semua berlangsung dalam dimensi ruang & waktu.
Seringkali orang terjebak dalam konsep pikir bhw “yg benar adalah saya , yg salah adalah org lain”. Tanpa mencoba dialog memahami apa yg dipikirkan org lain. Yg terjadi selanjutnya adalah perbenturan energi2 yg kontraproduktif.
Eh, Kalo diterusin panjang, cape ngetiknya…
Mengambil alih kewenangan pulisi?
Ah haruznya pulisi b’trimakasih dunk
Mereka ngerazia miras tanpa takut, nge hancurin bangunan tanpa izin dengan berani, merazia t4 maksiat tanpa kompromi.
Pulisi? Yakin deh g se berani ituh..
Saya jadi ingat, ada orang yang mengatakan, “Hidup ini seperti naik sepeda, kalau kita berhenti mengayuh, kita akan jatuh”….
Makanya gesekan itu perlu, soalnya kalo ga terjadi gesekan ga kan terasa apa-apa. he..he.., ( mengernyitkan dahi ).
e.. geuning si teteh ieu ti zetinenzer. Mangga atuh dilajengkeun. Sim kuring bade “memperhatikan dalam diam”..
Iya… semua momen selalu memanfaatkan momentum. Kaya hari ini… disukai atau tidak, adalah fakta bahwa perburuan terhadap the so-called Pembela Islam itu, menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah buat melengangkan isu BBM
terkadang niat baik itu tidak bisa slalu berakibat baik diterima oleh org
hmm…
mpmentum saat ini adalah euro 2208
Italia! Italia!
…waduh, maksudnya euro 2008
@ fanZ :
Buset dah..!!! Anda hidup di negara mana ?
Kalau setiap orang berpikir untuk mengambil alih kewenangan dan kekuasaan polisi [yang saya yakin anda tahu definisinya] maka mau jadi apa negeri ini ? Kalau setiap orang berpikir untuk menghancurkan “sesuatu yang menurut mereka salah”, maka tolong cubit lengan saya supaya saya yakin tidak bermimpi.
Kontrol sosial itu dilakukan selalu dalam koridor hukum. Kalau sudah tidak percaya lagi sama hukum negeri ini, maka silakan tinggalkan negeri ini.
Cara-cara kekerasan tidak pernah menjadi sebuah kontrol sosial, dan ini bisa dipelajari di sosiologi atau psikologi sosial.
@ nenyok :
Sedikit banyak pemerintah juga punya andil dalam peristiwa ini. Bukan soal kepada siapa pemerintah berpihak, tetapi ketegasan dalam membuat keputusan apakah “mereka yang dianggap sesat’ itu dibubarkan atau tetap hidup.
Demonstrasi damai adalah salah satu kontrol sosial.
Bikin pernyataan, mengumpulkan tanda tangan dan laporkan ke polisi, camat, dll demi menentang usaha perjudian di kompleks perumahan juga adalah kontrol sosial.
Mengasingkan dan mengacuhkan seseorang dari masyarakat karena perbuatannya yang menyimpang juga adalah kontrol sosial.
Tapi kekerasan tidak pernah menjadi kontrol sosial. Kekerasan urusannya di penjara sono.
Kontrol sosial itu cara yang beradab, kekerasan itu biadab.
*hanya memperhatikan dalam diam*
Ah, jadi inget sama film yang berjudul “Momentum”
Inget-Inget-Poho sih…
*diusir karna OOT*
kalo masalah grda yang didepan nyante aja, biar dibubarin abis ini muncul lagi yang pake P, semacem PDI Perjuangan hehehe
nantinya harus lebih smooth and calm biar gak mudah dimanfaati orang-orang di lingkaran luar yang pinter bikin skenario
di transkrip saya, nilai Fisika Dasar I dapet D. huhuhu… Btw, sedih liat kejadian sekarang.. gara2 pemerintah gak becus nanganin ahmadiyah, gini deh… sesama muslim saling gontok2an… GUSDUR maunya apa sih?????? *ekspresi pundung*
haha lieur uy
Kalau menurut saya, memang tidak perlu pakai tindakan2 ekstrim, karena seperti ada hukum fisika “ada aksi ada reaksi”, semakin kita keras beraksi semakin kita keras akan mendapatkan reaksi. Seperti dalam kasus Afghanistan. Apa yang didapat dari fihak yang menang dan yang kalah? Tidak ada sama sekali.
Logikana begini…. kita memerangi maksiat dengan kekerasan (maksudnya baik). Namun akhirnya yang dikerasi akan melakukan kekerasan balik, dan seterusnya… belum lagi kalau pada akhirnya umat Islam jadi terpecah belah. Ini menandakan bahwa memerangi maksiat dengan kekerasan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, maksiatnya belum tentu hilang, umat Islamnya malah terpecah belah. Inilah seringkali “kebodohan” kita yang selalu menganggap: Two wrongs make things right artinya dua buah kesalahan dianggap dapat menetralisir keadaan, padahal dua buah kesalahan di masing2 fihak hanya akan menambah dosa di masing2 fihak…..
Numpang menghela napas di sini ya… mmmmhhhhhhh pfffffff……………..
betul banget , seperti momentum yang kemarin adalah saat kopdar para blogger Sumut
silahkan lihat laporannya di postingan terbaru
terima kasih
jangankan dirimu, diriku aja pusing
money rules rasanya berlaku dimana mana bu…