Kayaknya semua orang di belahan bumi indonesia manapun sangat familiar dengan penganan satu ini, yap.. sambel or sambal, hingga banyak bermacam-macam jenis persambalan, dan salah satu ciri khas kenapa disebut sambal karena rasa pedas di lidah meski derajat kepedesannya berbeda-beda he…he.. pokoknya ada pedes2nya deh . Tapi gw bukan mau bahas derajat kepedesan sambel atau kenapa sambal pedes he…he… secara bukan expertnya di bidang kuliner (lieur mode on).
Di tatar sunda sambel bersanding dengan lalapan bahkan tanpa lalapan juga tetep exist, sering disebut sebagai “panghudang rasa” atau in indonesia-na “pembangkit selera” ya begitulah, orang yang tadinya ga selera makan saat melihat sambal langsung merasa kebutuhan perutnya harus dipuaskan, bikin “rewog” alias ngamuk makan (mencatut istilah Pak BR) . Wah pokoknya ga ada kapok2nya deh ” coel” “nyoel” “nyolek” si sambel ini.
So hubungannya dengat tobat apa ya (mikir mode on)… he…he…
Disadari atau engga, sebagian kecil atau sebagian besar dari kita (termasuk gw kalie
*sometomes*), dalam hal melakukan the sin plus pertobatan diri, secara ga sadar sering niru2 philosopy sambel ini, meski pedes tapi ga ada kapok-kapoknya gitu lho,
Saat konsentrasi keimanan kita sedang pekat alias derajat keimanan cenderung naik, kita begitu mengharu biru “asyik masyuk” khusyuk” dalam rengkuhan Sang Khalik, memohon ampunan, tapi gitu deh besok2 saat kondisi iman kita sedang turun (entah karena satu atau berbagai hal), kita masih saja melakukan mistakes or the same mistakes (terjerumus lubang yang sama).
Ya gitu kali ya, kalau ngelakuin hal yang dicap “dosa” seperti makan sambel, meski tahu bakal “medesin/bikin pedes someday “ tapi tu dosa cenderung terulang, mungkin pikiran dangkal ini selalu membisiki “Yang penting entar gw tobat deh” ga sadar kalau tobatnya tobat sambel he..he…
Jadi gimana dong, supaya bisa taubatan nasuha plus istiqomah………?????
Jadi gimana dong, supaya bisa taubatan nasuha plus istiqomah………?????
1.Senantiasa bergaul dengan orang sholeh. Tapi bukan berarti tdk berterman dgn yang laen, namun jadikanlah orang sholeh sebagai sahabat dekat. karena “berteman dgn tukang besi kena apinya, berteman ama tukang wangi kecipra\tan wanginya” iya nggak ?
2.Tambah pengetahuan Islam dan akrabkan diri dengan buku2 Islami.
3.Baca Qur’an, pahami artinya, tanya pada ahlinya jika tidak mengerti maksud dari arti sebuah ayat. truss Amalkan.
4.Ketika iman lagi turun, pertahankan iman kita, agar tidak berbuat dosa lagi. sabar dalam menghadapi kemaksiatan.
5.Merasa di awasi oleh Allah. dan merasa Allah slalu melihat kita.
6.Berdoalah kepada Allah, agar ditetapkan hati slalu dalam ketaatan pada-NYA. karena IA-lah yang membolak-balikkan hati.
7.mungkin itu.
thanks ya mas udah mampir di blogku. salam kenal. sy link ya
@alex
panjang…
BTT
laper
Namanya juga manusia, udah nangis tobat tapi ga lama makan sambel lagi
Yang enak-enak duluan, sakit belakangan. *cari obat maag buat perut melilit*
wah tu namanya ga tobat!!! wuah malah bikin laper ja!
jad inget kana paribahasa mun keur pangajian di lembur euy
Jawabannya jangan banyak makan sambal (dosa yang a-sin)
karena manusia tidak akan pernah luput dari dosa
eh nda tau deh
kata orang… manusia yang beriman itu jaman sekarang banyaknya STMJ
Sholat (ibadah) Tetap Maksiat Jalan
hahaha
dengan tidak bangga sama sekali mengakui bahwa saja termasuk di dalamnya
duh benar banget, sering sekali melakukan hal-hal yang melanggar agama, selalu minta ampun untuk kemudian khilaf lagi
Semoga bisa jadi istiqomah.
Humm .. Astagfirullah …
col deui col deui…udah tau pedes hehehe
makanya itu…
istiqomah diperlukan mbak
meskipun saya sendiri juga masih menemui kendala dalam istiqomah