Pentingnya Peran Ibu

7 05 2008

Menjadi Ibu Rumah Tangga atau Ibu untuk anak2nya sering dianggap profesi yang remeh temeh oleh kebanyakan orang, anggapan ibu rumah tangga yang hanya bergelut dengan “dapur” dan “kasur” kadang membuat sebagian Ibu rumah tangga ini seringkali berasa minder jika ditanya mengenai pekerjaan dengan mengatakan “akh saya cuma Ibu rumah tangga”.

Apalagi jika latar Ibu Rumah tangga tersebut seorang yang berpendidikan tinggi, dan dianggap punya potensi untuk berkarir sehingga kemudian banyak komentar kepada wanita yang memilih mengabdikan hidupnya untuk keluarga ini dengan komentar yang menyayangkan misalnya “Sayang ya sudah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi Ibu rumah tangga”

Tentu ungkapan diatas bukan berarti menafikan atau merendahkan wanita yang berkarir yang sekaligus sebagai Ibu Rumah tangga,  kedua pilihan itu tak salah karena yang terpenting dalam berkarir atau berumahtangga intinya adalah bagaimana kemudian berperan menjadi seorang istri dan Ibu yang baik bagi anak-anak.

Bukankah ada ungkapan bahwa dibalik kesuksesan seorang  laki-laki adalah tergantung siapa wanita dibelakangnya, ya wanita itu, bisa jadi Ibu bagi seorang anak atau istri bagi seorang suami.

Yang dititikberatkan dalam pembicaraan ini adalah bagaimana pentingnya peran seorang Ibu dalam keluarga. tak diragukan bahwa peran ibu dalam keluarga adalah sangat penting. Bahkan, dapat dikatakan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan keluarga sangat ditentukan oleh peran seorang ibu.  Jika ibu adalah seorang wanita yang baik, akan baiklah kondisi keluarga. Sebaliknya, apabila ibu adalah wanita yang bersikap buruk, hancurlah keluarga (Prof. Sa’ad Karim, 2006).

Ibu adalah madrasah pertama untuk anak2nya, tempat dimana anak mendapat asuhan dan diberi pendidikan pertama bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Seorang Ibu secara sadar atau tak sadar telah memberi pendidikan kepada sang janin, karena menurut penelitian bahwa bayi dalam kandungan sudah bisa mendengar bahkan ikut merasakan suasana hati sang Ibunda, maka tak heran jika ikatan emosional seorang Ibu dan anak tampak lebih dibanding dengan seorang ayah.

Jika seorang Ibu dapat memahami dan mau melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, dengan segala tuntunan dan teladan pada anak. Insya Alloh akan terlahirlah generasi yang salih, unggul dan mumpuni, mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kehidupannya kelak.

Namun realitasnya banyak ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Mungkin ada sebagian yang terlalu sibuk dengan kariernya hingga terkadang seperti menyerahkan tanggung jawab terbesar dalam pendidikan kepada pihak sekolah atau anak2 yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuh yang bisa jadi “kurang berkualitas”. Atau mungkin ada yang merasa menyerah dan putus asa dalam mendidik anak karena kurang pengetahuan sehingga bingung tidak mengerti dengan apa yang harus dilakukan.

Jika kondisi ini terus berlanjut maka pendidikan dan perkembangan jiwa anak yang kurang mendapatkan  pengasuhan yang baik dari seorang Ibu akan terabaikan sehingga  kepribadian anak yang baik tidak tercapai. Biasanya perilaku anak ini menjadi buruk baik di keluarga maupun masyarakat dan kalau sudah begini tentu bukan sepenuhnya salah si anak.

Banyaknya kasus2 bunuh diri akibat kekerasan orangtua pada anak, menandakan bahwa anak merasa tak aman dan nyaman di lingkungan keluarganya, kondisi seperti ini tentu saja bukan situasi yang kondusif untuk memberikan pendidikan yang baik buat anak karena orang tua malah tidak bisa menjadi teladan yang baik buat mereka.

Jadi hal pertama yang harus diciptakan oleh keluarga terutama oleh seorang Ibu adalah menciptakan sikon yang kondusif  sehingga kendala dalam mendidik anak, mengarahkan mereka terhadap ajaran agama, menciptakan kepribadian yang salih akan lebih mudah, karena ada saling percaya dan ikatan kasih sayang yang kuat antara Ibu dan anak, dari seluruh pihak keluarga.

Alloh SWT berfirman,

“Dan hendaklah takut kepada Alloh SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (an-Nisa:9).

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk segera memulai mendidik anak dengan cara yang disyariatakan dalam agama  secara sungguh2 dan penuh kesabaran.  Jika tidak maka akan menjadi orangtua (ibu) yang paling merugi, yaitu ibu yang sedang menunggu waktu datangnya kesulitan yang bertubi-tubi. Karena memiliki anak durhaka dan boleh jadi sering merugikan banyak pihak, baik dirinya sendiri, orangtua juga orang lain. astagfirulah.

Note: Masya alloh betapa berat ya tanggung jawab seorang Ibu, ya Rabb semoga aku bisa menjadi Ummu yang baik. Amin. tapi ada satu pertanyaan gw adalah bagaimana jika seorang istri tidak nyaman dengan perilaku suami , apakah dengan kondisi ini akan maksimal untuk mendidik anak2 ya tentu saja pada faktanya tanggung jawab mendidik bukan sepenuhnya ditangan Ibu tapi dominan kan memang di tangan Ibu. Thx for sharing here :)
 

About these ads

Aksi

Information

12 responses

7 05 2008
alex

tapi di jaman begini ini, di era feminis pada teriak-teriak persamaan hak, emansipasi, gender bla bla bla… apa ada yang masih mau sadar dengan tugas seorang ibu ya, sist? :roll:

31 07 2010
meisyah

hai

7 05 2008
itikkecil

gak ada yang salah dengan pilihan untuk menjadi ibu secara fulltime. sayangnya banyak yang beranggapan kalau itu bukan pilihan.

7 05 2008
hanggadamai

jadi inget ibu di rumah :(

19 12 2008
Wijdan Ibnu Masood

Ibu emang perlu dihormati. Tapi, apa yg hrs dilakukan seorang anak jika tahu bahwa ibunya telah melakukan hubungan seks dengan lelaki yg bukan suaminya? Lalu lahirlah aku? Sampai kapan aku menyebut “ayah” untuk lelaki yg dijadikan suami ibuku?
Wijdan sayang ayah sebenarnya: Masood. Bukan Lumaurridlo.
Wijdan Ibnu Masood, Kesugihan Cilacap

16 06 2009
Bagus

Nice article. =]

4 04 2010
aliya

ibu adalah segala-galanya, kesuksesan seorang anak ditentukan oleh keberhasilan seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya serta marawat keluarganya.
terima kasih ibu, aku sayang kamu dan aku bangga sama kamu..

berbanggalah menjadi seorang ibu rumag tangga

22 02 2011
Riano

Mari kita pelajari & pahami tugas masing-masing dalam keluarga untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah masa depan akan jadi lebih baik. Baik di dunia & akherat. Amien

19 10 2011
abcdefgh

bagusssss :) -_- ^_^ :D O:)

7 11 2011
latree

tapi teh… pendidikan anak itu bukan tanggung jawab ibu seorang kan? bapaknya juga kan??

takut aku teh, kalau itu cuma jadi tanggung jawab ibu aja. takut ga akan sanggup menanggung. karena walaupun sama sekali ngga berambisi mengejar karir, aku ini ibu bekerja…

16 11 2011
nenyok

Salam..
Secara syar’i tanggung jawab mendidik adalah ada di tangan Bapak, dia bertanggung jawab mendidik istri dan anak-anaknya agar tetap dalam kebaikan, jadi bukan seakan-akan semua di pundak Ibu, teknisnya kan memang Ibu yang berada d rumah, tp anyway mendidik mengasuh selaykanya jd tanggung jawab bersama, itu setahu gw Mbak..mungkin harus digali lagi nash-nash dalam alquran yang mendasari hal ini.
lets learn :)

23 11 2012
Ary Handayani

Semoga saya bisa …. Amiieen…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: