Dibalik Kaburnya Fian Bocah 10000 Dollar alias “Dollar Boy”
2 04 2008Damn!!!, Masya Alloh…. Yap “Dollar Boy”, ga salah tuh julukan buat bocah yang bernama lengkap Ahmad Legal Cifiandi (9 th) yang meramaikan pemberitaan, seolah mau ngalahin berita tentang sensor internet and film Fitna cuma karena kasus kaburnya dari rumah dengan membawa uang $ 10000 setara dengan 92 juta rupiah (Wow…. dont know what to say).
Kronologis kaburnya fian sampai diketemukan tuh ya kira-kira gini nie :
-
Kamis malam 27 Maret, Fian kabur dari rumah setelah diberi hukuman tidur di ruang tamu oleh sang Ibu karena tak mau mengerjakan PR dan pergi ke Citos yang hampir tutup dan akhirnya diajak seorang satpam citos Asep Eka menginap di rumahnya
-
Esoknya Jumat 28 Maret 2008, Fian minta diantar ke Blok M untuk menukar uang di Money Changer sebanyak $ 200, kemudian Fian meminta asep membelikan mainan, MP3, PS HP dll dan minta diantar ke Melawai untuk kembali menukarkan uangnya di money chager sebesar $ 800, dan siang harinya Fian masih masuk sekolah plus kasih duit $500 ma tu satpam tsb (rejeki nomplok ye :)), but gurunyapun ga tahu kalau ni bocah gy kabur karena kemudian kabur lagi pake bajaj
-
Trus sempet nginep di hotel tulip selama beberapa hari
-
Selasa pagi Fian diketemukan oleh seorang supir bajaj bernama Jono di bilangan Kebayoran Baru. Setelah ditemukan sopir tersebut, Fian kemudian dibawa ke Polsek Limo, Depok. Selanjutnya polisi membawa Fian ke rumahnya sebentar, dan kembali lagi ke Polsek Limo untuk dimintai keterangan.
-
Dan hari ini si 2 april “Dollar Boy” itu sudah mulai sekolah
Wah bener-bener deh, tuh bocah cerdik abis ya, Fian Oh Fian baru aja 9 tahun , kelas 4 SD udah bisa bikin heboh seindonesia. Great
![]()
Menurut wali kelasnya, Fian punya keunikan tersendiri. Dia mampu mempersuasikan atau mempengaruhi orang dengan tindak tanduknya . Seperti saat dia terlambat, dia selalu senyum-senyum, kemudian minta cium tangan. Itu membuat orang dewasa yang semula ingin marah, malah tidak jadi.
Kejadian itu berawal dari beberapa bulan lalu Fian sering telat masuk sekolah. Tapi, anak berusia 9 tahun itu bukannya langsung ke kelas malah sembunyi ke WC. Karena sembunyi di wc, Isma sebagai wali kelasnya memberikan surat peringatan kepada orangtuanya. Salah satu peringatannya diskors sebanyak tiga hari. Dan ternyata surat peringatan yang akan dibawa Fian ke orang tuanya langsung ditandatangani oleh Fian sendiri.
Padahal maksud gurunya memberikan surat peringatan agar Fian lain kali datang tepat waktu. dan setelh setelah kejadian itu Fian memang datang waktu. Tapi kembali telat. Setelah diskors, dateng tepat waktu lagi. Tapi kembali seperti itu lagi, berulang-ulang (Whats wrong with you Fian???)
Ada karakter Fian yang juga sangat menonjol. Yakni senang bercanda, tertawa riang dan suka mentraktir teman-temannya. Selain itu, Fian berani mengambil resiko atau risk factor. Di Sekolah prestasi belajarnya pun sedang-sedang saja. Tidak ada yang istimewa.
But……..
Psikiater Dadang Hawari melihat kejanggalan dalam kasus kaburnya Fian. Dia menduga Fian bisa saja diperalat orang dewasa. “Anak sembilan tahun belum tahu uang besar itu, apalagi uang asing yang jumlahnya sangat besar”.
Dia menilai dari sisi psikologis mungkin saja Fian memiliki gangguan perilaku.
Namun, gangguan perilaku itu tidak akan sampai memicu perbuatan senekat itu.
“Yang jadi pertanyaan, mengapa uang itu mudah diambil oleh anaknya. Itu terlalu banyak, disimpan di mana,” kata Dadang. Dadang juga melihat, banyak ketidaklaziman dalam kasus ini. Dia tidak yakin, Fian kabur dari rumah hanya karena dimarahi karena tidak mengerjakan PR.
Walaupun ada gangguan psikologis, kata Dadang, tetap saja proses menghilangnya Fian sambil menggondol uang sebesar itu tidak masuk akal. “Yang jadi pertanyaan saya, kenapa pula satpam itu mau menerima uang 500 dolar. Kenapa satpam tidak curiga, kasus ini sangat aneh,” ungkap Dadang. Dadang melihat kasus ini sebagai kasus kriminal yang memanfaatkan anak di bawah umur. “Tidak mungkin ini bisa berdiri sendiri, ada hal lain yang mendorong anak ini hingga mau berbuat seperti ini,” tutupnya.
Kak Seto Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, menilai
tindakan nekad Fian diambil sebagai bentuk kekecewaan kepada orangtua.
“Saya kira lebih karena kecewa. Tanpa sadar orangtua tidak memahami jiwa anak, mungkin ada masalah lain yang dijadikan anak mengambil uang itu,” kata pecinta anak yang akrab disapa Kak Seto ini. Menurutnya, bisa dimungkinkan ada kondisi yang tidak kondusif dalam keluarga mereka. Selain itu, anak hendaknya tidak dijadikan pelaku dalam kasus ini melainkan dijadikan korban. “Anak tidak mau dipojokkan. Dia punya mekanisme pertahanan diri. Lama kelamaan dia tidak kuat dengan melarikan diri,” imbuh dia.
Sikap Fian ini, lanjut Kak Seto, bisa dikarenakan untuk menyelamatkan diri dari tekanan dan cap negatif yang sering dilontarkan orangtua. Orangtua hendaknya mengubah cara mendidik dan mengasuh yang selama ini keliru. “Akhirnya dia semakin akrab dengan lingkungan dan sering lari dari rumah. Ini tidak wajar karena dia tidak merasa nyaman di rumah,” urai dia. Kak Seto menjelaskan, mendidik anak tidak hanya dengan mulut atau tangan. Melainkan dengan hati nurani.
Cara mendidik dengan lebih banyak bicara dan main tangan justru menciptakan bibit permusuhan, pemberontakan, dan perlawanan dari anak. “Orangtua itu tujuh kali berbicara, mendengar satu kali. Coba mohon dibalik,” ujar Kak Seto.
Jadi orang tua and anak di zaman sekarang, gampang-gampang susah, kasus Fian ini ya semoga bisa jadi jadikan pelajaran aja bagi para orang tua di bumi ini
![]()
Source: Dari berbagai sumber
Komentar : 5 Komentar »
Tags : anak, Berita, Bocah, Ahmad legal cifiandi, fian, kabur, dollar, komnas anak, kak seto, Vian
Kategori : Berita
Jejak