Its All About Acting…. Jadi IRI deh

13 03 2008

Nyimak Infotanment yang menceritakan Fedi Nuril (lajang yang musisi/personel band Garasi, aktor, bintang iklan, model yang lahir di Jakarta 1 juli 1982  ( selengkapnya disini )
yang aura kehadirannya disejajarkan dengan Nicholas Saputra ketika baru muncul membintangi AADC, dalam arti sekarang telah menjelma menjadi idola baru terutama di kalangan remaja cewek bahkan mba-mba sampai ibu-ibu (pastinya……).

Gw tahu Fedi bukan karena pernah nonton film dia sebelumnya tapi malah dari sebuah iklan rokok (kalau ga salah) yang disitu dia merelakan t4 duduknya di bus untuk seorang Ibu pokoknya ekspresinya simpatik banget, dan menurut gw Fedi cocok sekali memerankan karakter Fahri yang orang jawa dan berpembawaan kalem, meskipun ternyata banyak yang complain karena Fedi dianggap tidak cukup religius untuk memerankan sosok religius apalagi di film sebelumnya dia pernah melakukan adegan kissing dengan lawan mainnya.

Gw kurang setuju juga pendapat itu karena ini semua tentang akting, tak ada yang real di film jadi ga masalah mau orang seperti apa yang harus memerankan karakter tertentu di film ya sah-sah aja, coba jika logikanya dibalik kalau seandainya yang memerankan karakter relijius musti relijius apa yang memerankan tokoh jahat atau antagonis mesti orang yang karakter aslinya jahat juga, tentu tidak kan???, jadi semua karakter di film yang diperankan seorang aktor atau aktris maka pertimbangannya adalah cocok atau tidak cocok dalam segi akting, tidak ada hubungannya dengan pribadi asli (dalam kehidupan nyata) si aktor atau aktris tersebut.

Kalau mau ambil contoh, mungkin lu inget film “The Message” arahan Mousthapa Akkad seorang sutradara dari Libya, settingnya  jaman rasul, ya bisa dikatakan film Islami (diluar sisi subjektifnya jadi ga pure juga sesuai dengan sirah nabi dalam hal ceritanya), tapi film inipun bertema spiritual keagamaan  dan pemainnya justru bukan orang yang ke arab-araban tapi malah aktor-aktris Hollywood semisal Anthony Queen, IrenePapas and banyak lagi yang notabene mereka bukan muslim tapi pas-pas aja tuh meranin film itu, ya itulah dunia seni(akting/film khususnya), siapapun atau apapun yang berlindung dibalik bajunya akan berasa sah-sah aja (bukankah begitu???).

Tapi memang manusia selalu subyektif termasuk diriku,  dari hati dan pikiran gw yang terdalam, harapannya kalaupun berprofesi sebagai aktor-aktris, untuk seorang muslim baiknya milih-milih peran kali ya,  peran yang menyejukan (tujuannya bukan sekedar menaikan citra atau membaguskan image si aktor-aktris) tapi pertimbangannya adalah   boleh atau tidak, bukankah akting di film yang diangap tidak real tapi dalam skenario kehidupan tetep sesuatu yang real  akan tetap diminta pertanggung jawabannya kelak.

Eh balik lagi ke Fedi, lumayan  terkagum-kagum karena diceritakan bahwa selain dia dekat dengan ibunya, ternyata setelah membintangi AAC pribadinya menjadi lebih relijius, kata nyokapnya, Fedi jadi sering membaca al-quran, rajin shalat…….daku salut sekali (bisa dijadikan teladan orang yang terbangun jiwanya :)  tuh ) dan ini juga semoga bukan skenario memperbaiki citra atau ria dihadapan publik, hingga meredam kekecewaan dari penggemar novel AAC yang kemudian emoh nonton filmya karena merasa Fedi tak pas dalam sosok Fahri (catatan: ya sebenarnya ga ada hukum wajib juga untuk nonton AAC :)  )

Apapun itu, sungguh diriku  selalu “IRI” dengan orang-orang yang selalu bisa berubah menjadi baik, karena yang susah itu bukan berubahnya tapi bagaimana menciptakan tekad dan kesadaran tulus dalam diri untuk berubah dan berusaha mempertahankan perubahan tersebut. wallahu ‘alam