Celoteh “Abang Beca”

9 03 2008

” Duh jaman sakieu nya Teh, sagalateh mani ararawis, pusing abdimah mana titadi hese pisan penumpang, mana boga anak opat, keur biaya sakolana oge mani matak lieur, can daharna, can jajanna mangkaning beas oge beuki mahal, kumaha atuh nya, ripuh pisan geuningan” ………

Terjemahan bebasnya :

“Duh jamani gini ya Mba, segala macam pada mahal, pusing saya, mana dari tadi susah dapat penumpang, mana anak punya empat, biaya sekolahnya juga bikin pusing, belom buat makan, buat bekal jajan padahal beras makin mahal, gimana ya susah banget rasanya..dst”….

Dan celotehannya masih terus berlanjut ya kira-kira untuk perjalanan 500 meter lebih dikit  dengan kecepatan sedang bahkan sering mendekati kecepatan nol (karena mesti berhenti akibat macet)…..gw malah cuma denger prolognya to, karena endingnya juga ga akan jauh2 dari mengeluh tentang ” segala sesuatu yang serba sulit dalam hal ekonomi tentunya” karena kemudian gw sibuk dengan pikiran sendiri ttg hal itu:

Pikiran pertama hati gw berkata “Emang gw pikirin Bang, tahu hari gini jaman susah, siapa suruh punya anak empat  atau jangan2 poligami (kan dah biasa tuh tukang beca nyandung),  semua orang namanya cari duit ya susah, lagian masalah ini bukan cuma milik Abang doang, semua orang juga sama, atau jangan2 curhat begini supaya ongkosnya ditambahin ya, ah jangan2 sebenarnya boong lagi” ya itu pikiran sinis dan jahat gw mendengar celotehannya yang bernada putus asa, jengkel, menarik simpati dan memelas.

Tapi kemudian sisi lain pikiran gw jg kasih pendapat ” Iya bang ga usah ditanya soal kayak gini, semua orang tahu ekonomi ini susah, tapi sebenarnya tidak untuk semua orang kok, banyak juga yang kaya (yang sepertinya ga terpengaruh tuh ma harga2 yang semakin mahal) dan diantara mereka tidak semua peduli kepada orang macam kita yang makin hari makin berat memikul beban hidup tapi ya namanya hidup memang begitu, ada kaya ada miskin,  ada senang ada susah, dan semuanya sudah hukum alam, bukankah tak akan disebut kaya kalau ga ada si miskin (teringat lagu rhoma irama :) ), sabar aja lah, nikmati hidup”.

Terlepas dari motifnya apa, tapi habis itu gw mikir gimana caranya ya gw bisa tambahin ongkosnya biar tapi tidak terkesan kasih cuma2 akhirnya gw baru buka suara “Oh ya Bang ke depan deh dikit lagi ntar saya tambahin” dan dengan nada riang gembira Si Abang beca menyahut ” Iya Mba” .

Ya akhirnya gw kasih ongkos dua kali lipatnya, bukannya gw sok baik, ya hitung-hitung gw kasih jasa atas curhatannya  karena gw jadi punya ide buat nulis dan jadilah postingan ini.

Based on true story

nyandung (bahasa sunda)=poligami 




Arti Persahabatan

9 03 2008

Apa sih sesungguhnya persahabatan, mungkin kalau persahabatan dengan sesama jenis sih ga terlalu banyak menimbulkan pertanyaan tapi bagaiman kalau kemudian menjalin persahabatan dengan lawan jenis, apa mungkin bisa murni disebut persahabatan tho??.

Ada seorang kawan mengatakan bahwa gak ada namanya pria wanita tulus bersahabat dan kalaupun ada pasti sangat langka, karena persahabatan dengan lawan jenis sangat rentan dan berisiko, bisa jadi pemikiran ini terlalu picik, mungkin sebagian orang akan berkata ‘engga kok’ bisa-bisa aja, yang penting tergantung niat dll, malah katanya lebih enak punya sahabat lawan jenis terutama wanita yang sahabatan ma laki-laki katanya dimanjain lah, laki-laki lebih bisa jaga rahasia lah pokoknya banyaklah alasannya.

Tapi pada faktanya persahabatan dengan lawan jenis ini memang sangat rentan dan berisiko memunculkan bentuk baru yang melebihi dari ‘persahabatan murni” itu sendiri ya ujung-ujungnya ternyata ada perasaan lain yang lebih, perasaan cinta, takut kehilangan, ketergantungan, semacam itulah jadilah perasaan itu hadir sebagai sebuah bentuk cinta, banyak kasus kemudian “cinta” ini jadi membuat orang berubah, mungkin saat masih sahabatan tak ada namanya jaim-jaiman, atau marah-marahan atau nuntut ini itu, tapi setelah perasaan itu hadir, maka persepsi kita terhadap “sahabat” pun jadi berubah seiring dengan perubahan dari bentuk hubungan itu sendiri.

Kalau mau melihat lagi aturan agama Islam,  Alloh memang Maha Tahu fitrah makhluk-makhluk-Nya, dimana dalamnya ada aturan yang jelas bagaimana pria dan wanita harusnya dalam pergaulan, misalnya adanya larangan berkhalwat alias berdua-duaan, nenek bilang itu berbahaya juga kan, he…he.., trus juga berikhtilat alias campur baur ga jelas, kecuali di tempat umum kayak pasar, otomatis dong laki-laki dan wanita bercampur baur itu sih ga masalah, banyak lah, yang  kufahami intinya, aturan yang difirmankan sang pencipta itu menjaga manusia dari aktivitas-aktivitas “yang diinginkan tapi belum waktunya (karena kerangkanya belom sah)” sehingga manusia terjaga dari perbuatan dosa.
Tapi persahabatan  sangat lah baik (dengan catatan sesuai dengan aturan agama), bagaimanapun kita mesti saling sayang menyayangi secara tulus. Wallahu Alam.