Move…Move…Move… (on)

6 06 2009

Bismillah,

Ini tanggal 6 Juni 2009 ya..

Hmmm…Okay well finaly, gw memutuskan untuk quit dengan SENYAWA, pemikiran ini sudah sejak lama sekali dan gw rasa hari ini momen yang sangat tepat.

Alasannya?

Simplenya siy gw punya rumah baru, katakanlah gw pindah…ya pindah..dan pindah..meski nyatanya tentu bukan hanya soal kata “pindah” itu sendiri

SENYAWA adalah satu hal yang sangat penting dalam hidup gw, tanpa SENYAWA mungkin gw nemuin sesuatu yang bisa-bisa tak lebih baik dari yang hari ini gw punya.

Awalnya SENYAWA layaknya mesin pembunuh waktu namun di kemudian malah memberikan banyak kesan dan arti, di komunitas WP yang hangat ini Tuhan mempertemukan gw dengan orang-orang yang hebat, hangat dan bersahabat.

Terimakasih..sahabat..sekali lagi terimakasih atas segalanya *menjura*

Memang hingga hari ini,  secara fisik tak ada temen-temen bloger ini yang gw kenal atau pernah jumpa, mungkin someday ya…jika Alloh masih berikan gw kesempatan. Thanks buat semuanya, buat apresiasinya, semuanya sangat berkesan. Yang jelas too much memories here, really unforgetable and memorable for me.

Eniwei, gw minta maaf juga jika apa-apa yang ada disini ada yang tak berkenan, hanya ampunan yang gw harap karena kesalahan adalah dari gw sepenuhnya dan jika ada yang benar semata-mata datangnya dari Alloh.

Gw akan membiarkan SENYAWA apa adanya, silahkan jika ada yang masih berkenan membaca..semoga ada manfaatnya. Amin

Apa? Rumah barunya?

Okay, kalian bisa ngunjungin gw di..

Neo SENYAWA

Sekali lagi thank you so much….Love you..sampai bertemu lagi :)

Semangat!!!!!

*heh kok berasa sangat sedih ya*

-SENYAWA-





Lima L

25 05 2009

Sambil nungguin dosen yang telat mulu , gw membuka percakapan dengan seorang teman, lupa gimana awalnya tiba-tiba kita para perempuan yang masih keliatan imut sudah mature dan manis-manis ini mengobrol tentang poligami, he..he.. sepertinya bahasan yang selalu menarik sepanjang masa ya, ribet aja keknya klo ngomongin ini padahal simple aja cuma gw yakin hati perempuan manapun emang ga bisa dibikin sederhana jika ngadepin masalah kek ginian.

Hwaaaaaaaa… kebayang aja klo pasangan kita berniat poligami, pastinya berasa dunia runtuh kali ya, kiamat bow dan duh terhina dina, dilukai harga diri, dan bla…bla..bla..bermacam ribu alasan terkemuka ke permukaan.  Hey itulah situasi psikologis yang akan banyak dialami para perempuan di jaman sekarang dimana cinta erotis, atau slogan dia hanya miliku, aku hanya miliknya seorang  bak perjanjian suci yang tidak tertulis.

Hey tapi dari beberapa komunitas para perempuan yang gw “gauli” ada juga “pengecualian” terkesan di luar pakem, gimana tidak, ada seorang istri malah memohon sama suaminya untuk menjadikan sahabatnya sebagai calon istri berikutnya, dan dia juga malah memohon kepada sahabatnya supaya mau jadi istri kedua suaminya.

Hah..hah tau tidak pertanyaan di kepala gw adalah “Ada apakah di otak perempuan jenis itu atau terbuat dari apakah hati perempuan itu” . Haiyah tentu itu pertanyaan gw yang konyol sekalih, salute!! plus subhanalloh itu kata pertama yang terucap,  hahaha… pada saat kebanyakan orang memandang cinta begitu ribet  ada jenis perempuan yang “legowo” begitu rupa.

Oh ya, tentang obrolan gw ma temen gw itu, nurut pandangan doski (berasa jd remaja tahun 90-an) its okay poligami, memang ma Alloh sudah dibolehkan kok, kita para perempuan akan konyol aja klo cape-cape menentang aturan itu apalagi ingin menghilangkannya,  itu aturan sudah fitrah adanya, ya tapi laki-laki yang baik pasti rasional dalam mengukur dan memandang segala sesuatunya.

See!!!  ini dia kuncinya, apakah para lelaki itu sudah mampu menentramkan biduk yang mereka punya sebelum hendak membuat biduk baru, begitu timpal gw, yah lelaki seperti apa dulu yang layak dan  punya kapasitas untuk poligami, gw rasa para perempuan tak akan terlalu ribet menyikapinya.

Klo udahmah ga sholeh, miskin pula, atau meskipun kaya tapi otak kriminil mo poligami, plis deh …plis..plis….plis :D

Tapi gw kira, klo memandang soal ini dihubungkan dengan sikon yang dihadapi, for ex, jika seandainya kita dihadapkan saat jaman Rasulululloh dengan banyaknya perang untuk menegakkan Islam, kemudian banyak para suami gugur sebagai syuhada, apa para perempuan akan tega membiarkan saudarinya terbiar sebagai janda, itulah maka mereka saling tolong menolong dengan sukarela membiarkan para suami mereka menikahinya dengan tujuan baik. dan karena itu pulalah generasi islam juga berkembang dengan pesat dan dijaman itu tentu itu bukan suatu yang aneh, luar biasa, menyakitkan atau apalah stereotip buruk tentang pelaksanaan poligami yang melekat di jaman kini.

Ah sudahlah, memang klo ga suka sate kambing ya ga maksa, tapi ga perlu mempengaruhi orang untuk ikut-ikutan ga suka, ya kan?

“Oh ya Mba, jadi gimana nurut Mba klo misalnya suami Mba berkeinginan poligami?”

Doski tersenyum sejenak namun kemudian menyeringai, gigi geliginya yang putih kecil-kecil mendadak meruncing dan  taringnya tiba-tiba keluar, dan setelah itu suara petir terdengar menggelegar diiringi keadaan ruangan kelas yang mendadak senyap dan gelap…Tiba..tiba…. Baca entri selengkapnya »





Hofmann: Menjadi “Muslim” Sebelum Resmi Islam

19 05 2009

Dr. HofmanDr. Murad Wilfried Hofmann, lahir sebagai Katholik di Jerman pada 1931. Ia lulus dari Union College di New York, dan melengkapi pendidikan hukumnya di Munich University, di mana ia mendapat gelar doktor di hukum yurisprudensi pada 1957.

Kemudian ia menjadi asisten peneliti untuk pembentukan ulang prosedur sipil federal, dan pada 1960 menerima gelar LL.M. dari Fakultas Hukum Harvard. Ia dulu adalah Direktur Informasi NATO di Brussels dari 1983 hingga 1987. Ia sempat diposkan menjadi duta besar Jerman untuk Aljazair di 1987, dan kemudian di Maroko, 1990, di mana ia bertugas selama empat tahun.

Beberapa pengalaman kunci akhirnya membawa Hofmann menuju Islam. Pertama dari seluruh rangkaian itu terjadi pada 1961, ketika ia ditugaskan di Aljazair sebagai atase kedutaan Jerman. Ia menemukan dirinya berada di tengah-tengah situasi perang gerilya berdarah antara pasukan Perancis dan Front Nasional Aljazair yang telah bertempur untuk kemerdekaan Aljazair selama delapan tahun lebih.

Di sana ia menyaksikan kejahatan dan pembantaian yang diterima populasi rakyat Aljazair. Setiap hari hampir selusin orang dibunuh–jarak dekat dengan eksekusi–hanya karena menjadi orang Arab yang menyerukan kemerdekaan.

“Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair untuk bangkit di wajah-wajah luar biasa penuh penderitaan itu. Kedisiplinan mereka selama Ramadan, kepercayaan diri terhadap kemenangan, begitu juga kemanusiaan di kala penuh penderitaan,” tutur Hofmann.

Ia merasa itu adalah agama mereka yang menjadikan mereka seperti itu, dan karena itu Hoffman pun mulai tertarik mempelajari kitab suci mereka, Al Qur’an. “Saya tidak pernah berhenti membaca sejak saat itu,” akunya.

Saya juga berpikir tentang kualitas introspektif istana-istana Muslim, antisipasi mereka terhadap taman surga yang penuh naungan, air mancur,” ujar Hofmann.

“Juga struktur fungsional masyarakat di pusat urban Islami (Madinah) yang menguatkan spirit komunitas dan transparasi pasar, panas dan angin yang menderu, dan banyak lagi,” katanya.

“Apa yang saya alami sangat penuh kebahagian Islami di banyak tempat, sebuah efek nyata harmoni dalam Islam, cara hidup islami, dan bagaimana Islam menyikapi ruang antara hati dan pikiran,” tutur Hofmann.

Mungkin lebih dari itu, yang membuat perubahan nyata dalam pencarian terhadap kebenaran justru karena pengetahuan menyeluruh tentang doktrin dan sejarah Kristen. Ia menyadari jika ada perbedaan signifikan antara keyakinan Kristen dan apa yang diajarkan profesor sejarah di universitas.

Ia, terutama bermasalah dengan adopsi Gereja atas doktrin yang didirikan oleh St. Paul dalam kecenderungan sejarah Yesus.

“Ia yang tidak pernah bertemu Yesus, dengan Kristologi ekstremnya menggantikan pandangan Judeo-Krsitiani Yesus yang asli dan benar,” ujarnya menilai.

Ia pun sulit menerima jika orang dibebani “dosa asal” dan Tuhan harus membiarkan putranya disiksa dan dibunuh dengan salib untuk menyelamatkan seluruh manusia ciptaannya.

“Saya mulai menyadari betapa monsternya, bahkan sangat bersifat menghina agama untuk membayangkan Tuhan dapat menyerupai ciptaanya, bahwa ia tak mampu melakukan sesuatu atas kekacauan yang dibuat oleh Adam dan Hawa tanpa menurunkan anak hanya untuk dikorbankan dalam cara penuh darah, bahwa Tuhan menderita atas manusia, ciptaannya sendiri.

Hofmann pun kembali ke pertanyaan sangat mendasar keberadaan Tuhan. Setelah menganalisa hasil karya para filosof, seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, muncul pengakuan intelektual atas keberadaan Tuhan.

Pertanyaan logis selanjutnya yang ia hadapi adalah bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia sehingga mereka dapat diberi petunjuk.

Hal itu membawanya kepada pengakuan kebutuhan untuk menyerahkan diri. Namun mana yang mengandung kebenaran,Judeo-Kristen, atau Islam.

Ia menemukan jawaban atas pertanyaan itu dalam tiga pengalaman krusial ketika ia membaca beberapa ayat Al Qur’an “..tidak ada pemikul dosa yang harus membawa dosa orang lain,” (Al Qur’an 53:38).

Ayat itu langsung membuka matanya dan memberikan jawaban telak atas dilemanya. Begitu jelas dan bagi Hofmann tidak mengandung ambiguisitas. Ayat itu bertentangan dengan ide membawa ‘dosa asal’ dan harapan ada campur tangan dari orang suci.

“Seorang muslim hidup di dunia tanpa perantara, tanpa hirarki keagamaan. Ketika ia berdoa ia tidak berdoa lewat Yesus, Maria, atau orang suci perantara lain, namun langsung kepada Tuhan, sebagai orang yang percaya sepenuhnya, dan ini adalah agama yang lepas dari misteri,” demikian tulis Hofmann, dalam artikel berjudul “A Muslim is the emancipated believer par excellence”.

“Saya mulai melihat Islam dengan Baca entri selengkapnya »





Hidup | Pilihan Benar dan Salah

13 05 2009

Dalam suatu acara talkshow atau semacam bincang-bincang di Televisi dihadirkanlah seorang PSK sebagai bintang tamu, kemudian si host bertanya lumayan detail seputar kehidupan dan profesi kegiatan ber- PSK tersebut, misalnya sejak kapan, berapa lama, apakah senang atau tidak pekerjaan itu, bagaimana reaksi keluarga, sampai kapan melakoni itu semua.bla..bla..tapi jarang banget yang langsung nembak dengan pertanyaan misalnya:

“Apakah anda tahu bahwa melacur adalah perbuatan zina dan itu menurut norma agama adalah dosa??

Jawaban yang mungkin sangat standar adalah “Iya saya tahu tapi bagaimana lagi, karena saya tak memiliki keahlian lain dan harus menghidupi anak-anak saya, sementara suami saya pergi entah kemana dan menelantarkan kami begitu saja…bla..bla..bla…” *sambil berurai airmata*

*terharulah para penonton dan hostnya* :D

Di ujung acara Hostnya mengatakan ”Hmm Tuhan pasti mengerti kalau anda melakukan itu demi cinta anda terhadap keluarga, kami akan selalu mendukungmu”

Di acara TV talkshow lainnya menghadirkan bintang tamu sepasang pelaku kumpul kebo (samen leven bahasa kerennya mah), seperti biasa Si Host bertanya macam-macam namun terkesan lebih hati-hati ketika terlontar pertanyaan ” Baik kita bicara bukan dalam konteks baik dan buruk ya, tapi memangnya anda tidak merasa dirugikan sebagai perempuan melakukan hal ini, apa yang membuat anda merasa nyaman dengan ini” (again!!! perempuans…)

Jawaban yang akan sangat standar pula (atau pembelaan diri) ”Ah tidak, buat kami cinta sudah cukup sebagai ikatan kuat, selama ini kami nyaman-nyaman saja menjalaninya, komitmen seperti ini sudah cukup kok, toh yang nikah juga banyak yang cerai, kalaupun punya anak kami mungkin memilih akan menikah”

Si Host agak-agak nyengir kuda, maklum di negeri ini at least dari sisi budaya masih belum lumrah meskipun sudah mulai cenderung  lumrah, haiyah klo dari sisi agama mah jangan ditanya, jawab saja pake hati nurani masing-masing.

Satu hal yang gw amatin (biasanya) dari setiap ending acara-acara yang menghadirkan bintang tamu dengan prilaku semacamnya (baca: dianggap tak lumrah) adalah kesimpulan yang tak tegas dihadapkan pada penilaian dalam konteks baik atau buruk tercover dengan alibi-alibi tertentu, seperti memberi permakluman-permakluman yang membuat hal itu semakin samar keburukannya, mungkin karena pada hari ini saat pemenuhan hawa nafsu dalam berbagai bentuk mudah dilakukan dimana untuk berbuat sebebas apapun sepertinya tak masalah meski ada istilah “kebebasan yang bertanggung jawab” Well bertanggung jawab seperti apa dan sama siapa? Kalau sama Tuhan yang memang semestinya bukan..tapi…

Hidup adalah pilihan begitu ungkapan populer yang ada..

Memang, tak ada sedikitpun konteks pemaksaan untuk setiap perilaku namun coba kita resapi baik-baik saat suatu ketika Rasulullah SAW diberi nasehat oleh Jibril yang nasehat ini tentu sebenarnya juga nasehat bagi kita.

“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau akan dihisab (dibalas) atas perbuatanmu itu dan cintailah siapa saja, yang engkau kehendai, tapisesungguhnya engakau akan berpisah dengannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang muslim itu karena shalat malamnya, dan kebesaran seorang muslim ialah karena zuhud terhadap sesama manusia”

Well, bahkan untuk soal beragama sekalipun;

“Tidak paksaan untuk memasuki agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat . Karena itu siapa yang ingkar pada thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah:256)

Pepatah bijak mengungkapkan:

“Hidup hanyalah kesempatan membuat pilihan, Segalanya bergulir dan bergilir namun sejatinya pilihan yang benar-lah yang membawa kemuliaan”

Ujar seorang kawan..So…mau pilih neraka apa syurga!!! (igh..kok jd mendadak berasa seram gw) .





Black Swan|Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

9 05 2009

The term black swan comes from the ancient Western conception that ‘All swans are white’. In that context, a black swan was a metaphor for something that could not exist. The 17th Century discovery of black swans in Australia metamorphosed the term to connote that the perceived impossibility actually came to pass.

Begitulah, sains bekerja, sepanjang belum ada bukti empiris tentang sesuatu maka segala proposisi ilmiah masih akan berpijak pada apa yang nyata dan sudah lalu, disini nilai kebenaran sesuatu (dianggap) bertahan secara relatif, hingga kita dapat menemukan antitesis darinya.

So, siapa sangka, Al Qaedah yang dulu bahu-membahu dengan amerika melenyapkan Uni Soviet, kemudian karena peristiwa 11 september bisa jadi tersangka utama dalang dibalik peristiwa dan menjadi musuh Amerika (msh berkeyakinan peristiwa ini tak lebih dari skenario besar untuk mencari alibi demi kepentingan lain) atau tak disangka cerita Harry Potter yang begitu digemari di berbagai negara, termasuk gw yang pernah maniak baca ini, tapi seiring waktu luntur juga rasa suka gw :D

Contoh-contoh diatas merupakan fenomena ”angsa hitam”- terjadi dengan tidak disengaja dan tidak diramalkan. In Nassim Nicholas Taleb’s definition, a black swan is a large-impact, hard-to-predict, and rare event beyond the realm of normal expectations. Taleb regards many scientific discoveries as black swans—”undirected” and unpredicted.(wikipedia) Baca entri selengkapnya »